John Stones Bicara soal Semangat Tim dan Pertahanan Tangguh
John Stones tahu pertanyaan itu pasti datang. Setelah kemenangan epik Inggris atas Meksiko (3-2) di Stadion Azteca, perhatian langsung beralih ke perempat final melawan Norwegia di Miami. Apalagi, di lini depan Norwegia ada pemain berponi khas yang sangat ia kenal: Erling Haaland, rekan setimnya di Manchester City selama empat musim. Namun, Stones enggan membahas detail taktik untuk menghentikan Haaland saat itu.
Saat berbicara usai pertandingan, Stones mengaku baru tahu lawan Inggris di babak berikutnya. Tentu saja itu hanya gaya santai khas Stones yang selalu hidup di momen saat ini. Meski begitu, bek tengah ini tetap menunjukkan respek besar pada Haaland dan tim Norwegia. Pertanyaan yang lebih penting justru menyentuh inti peluang Inggris melaju jauh di turnamen ini—memenuhi harapan dan mimpi yang tiba-tiba membuncah.

Pertahanan Inggris yang Rentan? Begini Buktinya
Sepanjang Piala Dunia ini, pertahanan Inggris kerap tampil terbuka. Ada celah yang mudah dieksploitasi lawan. Jordan Pickford juga tidak selalu meyakinkan di bawah mistar. Saat Meksiko memperkecil skor menjadi 3-2 melalui penalti Raúl Jiménez di menit ke-69, mentalitas pertahanan Inggris benar-benar diuji.
Apalagi, Inggris sudah bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-54 setelah Jarell Quansah mendapat kartu merah akibat pelanggaran keras pada Jesús Gallardo. Pelatih Thomas Tuchel memasukkan Stones sebagai pengganti Bukayo Saka dan mengubah formasi menjadi 4-4-1. Namun, langkah paling berani datang pada menit ke-75: Tuchel menarik Elliot Anderson dan Nico O’Reilly, lalu memasukkan Dan Burn dan Djed Spence, serta beralih ke formasi 5-3-1.
Uji Ketangguhan di Stadion Angker Azteca
Bisakah Inggris bertahan dengan 10 pemain melawan Meksiko yang memiliki rekor luar biasa di kandang? Meksiko hanya kalah dua dari 89 pertandingan kompetitif di Stadion Azteca. Sorak sorai pendukung tuan rumah menjadi tekanan tersendiri, ditambah efek ketinggian 2.240 meter di atas permukaan laut yang tidak sempat diaklimatisasi oleh pemain Inggris.
Jawaban Inggris luar biasa. Dengan formasi lima pemain bertahan, mereka tidak memberi Meksiko satu pun peluang emas ke gawang Pickford. Konsa bermain sebagai wing-back kanan, Spence di sisi kiri, sementara Stones, Marc Guéhi, dan Burn mengisi posisi tengah. Meskipun tambahan waktu 11 menit membuat pendukung Inggris cemas, para pemain tetap tenang. Mereka mengukur progres lewat blokade, sapuan, dan intersepsi.
Statistik Mengesankan: Burn Jadi Pahlawan, Pickford Kembali Moncer
Stones mencatat lima kontribusi defensif, sementara Dan Burn luar biasa dengan delapan kontribusi—terbanyak di antara pemain Inggris. Spence menyusul dengan enam. Pertandingan ini juga menjadi milik Jordan Pickford; ia melakukan dua penyelamatan penting di babak pertama, termasuk penyelamatan spektakuler ke sisi kiri saat skor masih 0-0. Di menit-menit akhir, ia juga tampil tenang mengantisipasi bola-bola tinggi. Kolektif pertahanan Inggris benar-benar memberikan pernyataan.
“Pasti,” ujar Stones. “Ini juga soal kedalaman skuad kami. Dan, Djed, dan saya masuk, Ezri pindah ke kanan. Azteca bukan tempat mudah; secara statistik, Meksiko sangat kuat di kandang. Kami bermain dengan 10 orang dan harus menahan tekanan luar biasa. Sungguh menyenangkan melihat reaksi blokade dan penyelamatan. Itu kemenangan kecil bagi kami sebagai bek, tapi menciptakan mentalitas juara dan atmosfer yang membuat semua orang terpompa. Saya bangga dengan pemain yang masuk dan berdampak besar. Kami berhasil melewatinya, dan sebagai pemain, pengalaman seperti ini sangat mendorong semangat,” tambahnya.
Perjuangan John Stones: Dari Cedera ke Peran Kunci di Piala Dunia
Musim ini tidak mudah bagi John Stones. Cedera pada awal Desember membuatnya absen dua bulan, dan setelah itu ia hanya tampil dalam lima pertandingan lagi bersama Manchester City. Di Piala Dunia, setelah menjadi starter di laga pembuka melawan Kroasia, ia hanya duduk di bangku cadangan saat melawan Ghana dan Panama. Di babak 32 besar, ia baru masuk pada menit ke-89 melawan Republik Demokratik Kongo. Meski demikian, Stones adalah bek paling berprestasi dan paling banyak caps di skuad Inggris—nama besarnya tak terbantahkan. Ia sadar bahwa sikap tanpa pamrih adalah segalanya.
“Saya sudah siap bermain penuh sejak awal tahun,” kata Stones. “Saya tidak mendapat kesempatan, begitulah adanya. Frustrasi tentu ada. Saya ingin bermain. Tapi mentalitas para pemain yang tidak sering tampil sungguh luar biasa. Hal itu jarang terjadi dalam turnamen. Jauh dari keluarga, latihan setiap hari, tidak bermain sebanyak yang diinginkan… tetapi kami semua lapar untuk membantu. Kami punya satu tujuan: mencapai final dan melihat ke mana arahnya. Saya merasa hebat dan senang bisa membantu serta tampil seperti yang saya lakukan melawan Meksiko,” tutupnya.