Allan Saint-Maximin: Anak-Anak Tak Harus Terima Rasisme

Allan Saint-Maximin memilih untuk tidak tinggal diam. Setelah anak-anaknya menjadi sasaran pelecehan rasial pada tahun ini, pemain sayap asal Prancis itu merasa perlu angkat bicara dan menyuarakan pengalamannya secara terbuka. “Apa pun warna kulitmu, kamu tidak harus menerima perlakuan seperti ini,” ujarnya kepada BBC Sport.

Pernyataan itu bukan sekadar komentar singkat yang ia lontarkan sekali lalu dilupakan. Saint-Maximin adalah ayah dari empat anak, dan persoalan ini mencuat ketika ia menjalani karier di luar Eropa, tepatnya saat memperkuat klub Meksiko, Club America. Melalui unggahan panjang di Instagram pada Januari, ia menegaskan bahwa kebencian dan diskriminasi tidak punya tempat di masyarakat. Unggahan tersebut mendapatkan lebih dari 159.000 suka, termasuk dari mantan rekan setimnya di Newcastle United, Kieran Trippier dan Joelinton.

Allan Saint-Maximin

Sikap Allan Saint-Maximin: “Tidak Harus Menerima”

Dalam wawancara tersebut, Saint-Maximin menjelaskan bahwa keputusan untuk bersuara lahir dari kesadaran bahwa diam hanya akan membiarkan persoalan yang sama terus berulang. Ia menyebut penting untuk “melangkah maju” dan menunjukkan sikap, terutama karena ia sadar posisinya sebagai figur publik bisa membawa pengaruh bagi banyak orang. Pesannya cukup sederhana namun tegas: siapa pun, dengan warna kulit apa pun, berhak menolak perlakuan rasis.

Ia sendiri tidak merinci bentuk pelecehan yang dialami anak-anaknya. Namun, sebelum kembali ke Prancis untuk memperkuat Lens, ia mengungkap bahwa “ada sesuatu yang terjadi pada anak-anak saya di sekolah” selama masa baktinya di Club America. Kepada anak-anaknya, ia menjelaskan bahwa kejadian itu bukan hal yang normal, dan menurutnya mereka sudah memahami hal tersebut. Mereka pun, kata Saint-Maximin, tidak merasa senang dengan apa yang terjadi.

“Saya cukup sedih soal anak laki-laki saya, tetapi di setiap tempat ada hal-hal seperti ini, bahkan di Prancis, negara tempat saya berasal,” katanya. Ia menegaskan kembali bahwa ini adalah sesuatu yang tidak harus mereka terima. Setelah pindah ke Lens, situasinya memang membaik, meski ia tetap melihat hal-hal yang tidak menyenangkan. Menurutnya, menunggu tempat yang benar-benar sempurna justru sebuah kesalahan.

Kronologi: Dari Club America hingga Kembali ke Prancis

Rangkaian peristiwa ini akhirnya memuncak pada keputusan Saint-Maximin meninggalkan Club America. Keputusan tersebut ia ambil bukan karena klubnya, melainkan karena situasi yang menyangkut keselamatan dan kenyamanan keluarganya. Ia kemudian kembali ke Prancis dan bergabung dengan Lens melalui kontrak jangka pendek pada paruh kedua musim lalu.

Bersama Lens, ia ikut menyumbang pencapaian bersejarah bagi klub tersebut. Lens menjuarai Piala Prancis untuk pertama kalinya dalam 120 tahun sejarah klub, sekaligus finis di posisi kedua Ligue 1. Capaian itu menunjukkan bahwa di tengah tekanan pribadi yang berat, ia tetap mampu tampil berkontribusi di level kompetitif tertinggi.

Jalan yang ia tempuh memang tidak sederhana. Ia harus menyeimbangkan tuntutan sebagai pesepak bola profesional dengan tanggung jawab sebagai kepala keluarga yang ingin melindungi anak-anaknya. Pilihan meninggalkan satu klub demi alasan seperti ini bukan hal lumrah di dunia sepak bola, sehingga langkahnya menarik perhatian banyak pihak.

Dukungan Club America dan Pilihan yang Berat

Club America merilis pernyataan resmi yang menyatakan “solidaritas penuh” terhadap Saint-Maximin dan keluarganya, yang dinilai mendapat dukungan dari semua orang yang menjadi bagian dari institusi tersebut. Sebelum laga melawan Necaxa, para pemain mengangkat spanduk bertuliskan ‘No to racism’ sebagai bentuk dukungan nyata. Sikap itu menegaskan bahwa klub tidak membenarkan apa yang dialami keluarganya.

Saint-Maximin sendiri menegaskan bahwa Club America bukan pihak yang bersalah. “Saya tidak punya masalah dengan mereka, para pemainnya, atau warga Meksiko. Saya mencintai klub ini. Itu salah satu tempat terbaik yang pernah saya jalani bersama keluarga saya,” ujarnya. Menurutnya, hanya segelintir orang yang melontarkan hal buruk dan mencoba menyerang keluarganya, tanpa ia pernah tahu siapa mereka atau apa alasannya.

Ia mengakui bahwa keputusan pergi adalah pilihan yang sulit bagi dirinya dan keluarganya. Meski demikian, ia mengambil tanggung jawab itu karena selalu berpegang pada prinsip bahwa dirinya tidak akan menerima perlakuan semacam itu. Baginya, penting untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa ia bisa saja kehilangan banyak hal, tetapi tetap tidak akan menerima rasisme dalam bentuk apa pun.

Babak Baru di Charlotte Bersama Dean Smith

Pada musim panas, Saint-Maximin sebenarnya menerima sejumlah tawaran. Namun, ia memutuskan bergabung dengan klub Major League Soccer (MLS), Charlotte. Keluarga menjadi pertimbangan utama di balik keputusan tersebut. “Keluarga saya selalu mengikuti saya ke mana pun. Jadi kali ini lebih merupakan pilihan keluarga,” katanya. Ia menyebut kepindahan ini sebagai caranya membalas apa yang telah diberikan keluarga sejak awal kariernya.

Di Charlotte, ia bekerja sama dengan mantan manajer Aston Villa, Dean Smith. Saint-Maximin menggambarkan Smith sebagai sosok yang “lugas” dan akan langsung mengatakan kebenaran tanpa berbelit. Sebagai salah satu dari dua designated player di klub tersebut, ia bertekad membangun warisan di bawah kepemimpinan Smith sekaligus membantu rekan-rekannya berkembang menjadi pemain yang lebih baik. Ia juga menyimpan ambisi untuk menghibur para pendukung Charlotte.

“Melihat robot bermain itu tidak masuk akal bagi saya,” kata pemain berusia 29 tahun tersebut. Pernyataan itu sekaligus menggambarkan karakter permainannya yang spontan dan ekspresif, jauh dari kesan kaku. Ia memang dikenal sebagai pemain yang mengandalkan kreativitas dan keberanian mengambil risiko di lapangan.

Newcastle United, Klub Impian yang Tak Terlupakan

Gaya bermain Saint-Maximin jelas bukan gaya robotik. Selama membela Newcastle, ia menjelma menjadi figur kultus di kalangan suporter, terutama ketika klub itu berjuang keras bertahan di Premier League hampir sepanjang masa baktinya. Ia juga merasakan momen puncak ketika Newcastle yang tengah bangkit lolos ke Liga Champions pada musim terakhirnya di Tyneside pada 2023.

Namun, ia sadar betul bahwa staf klub bisa kehilangan pekerjaan jika tim sampai terdegradasi. “Ketika kamu merasakan peluang itu, perasaan yang membebani pundakmu, kamu berpikir, ‘ini berat’,” katanya. Tanggung jawab itu ia pikul setelah lebih dulu menjalin kedekatan dengan suporter Newcastle sejak kepindahannya dari Nice. Ia bahkan menjadi relawan di foodbank kota tersebut dan memberi hadiah kepada penggemar, termasuk jam tangan Rolex.

“Kalau saya bisa memberikan seluruh uang saya kepada mereka, saya akan melakukannya, karena tidak ada yang lebih baik dari perasaan yang mereka berikan,” ujarnya. Ia menyebut perasaan itu sebagai sesuatu yang tidak bisa dibeli, meski ia telah mencoba. “Cinta yang mereka berikan, saat saya berlari dengan bola, saya merasa ada orang-orang di belakang saya, dan saya berlari karena mereka.” Ia berharap setiap pemain bisa merasakan hal serupa, karena dukungan seperti itu mampu mengeluarkan versi terbaik dari seorang pesepak bola.

Ia menghabiskan empat tahun di Newcastle, periode terpanjang dalam kariernya yang berpindah-pindah, sebelum bergabung dengan klub Liga Pro Saudi, Al-Ahli. Ia juga sempat bekerja dengan Matthias Jaissle, sosok yang kini disebut menangani Newcastle setelah menggantikan Eddie Howe pada musim panas ini. Saint-Maximin berharap pelatih asal Jerman itu beserta stafnya menjalani waktu terbaik di St James’ Park, seperti yang pernah ia rasakan.

“Newcastle adalah klub impian saya. Saya mencintainya dari lubuk hati. Saya menonton setiap pertandingan. Mereka memberi saya apa yang tidak diberikan orang lain, dan saya tidak akan pernah melupakannya. Saya sangat loyal. Saya punya banyak kesempatan bermain di Premier League, tetapi saya tidak mengambilnya karena mereka,” katanya.

Dari seluruh ceritanya, satu benang merah terlihat jelas: bagi Saint-Maximin, sepak bola bukan hanya soal trofi dan kontrak, melainkan juga soal keluarga dan prinsip yang ia pegang. Ia memilih meninggalkan klub, memilih tujuan baru, dan memilih bersuara, semuanya demi melindungi orang-orang terdekatnya. Pesan yang ia sampaikan kepada anak-anaknya sekaligus kepada publik luas sederhana: rasisme bukan hal yang harus diterima, di mana pun itu terjadi.