Pertanyaan soal siapa yang benar-benar berhak menyandang juara final Piala Afrika 2025 kini berpindah dari lapangan ke ruang sidang. Court of Arbitration for Sport (CAS), lembaga peradilan tertinggi di dunia olahraga, menggelar sidang banding yang diajukan Federasi Sepak Bola Senegal (FSF) atas keputusan yang mencabut gelar juara mereka. Duduk perkara ini sendiri sudah berjalan hampir sembilan bulan sejak pertandingan kontroversial itu digelar pada Januari lalu.
Yang menantikan hasilnya bukan hanya dua federasi yang bersitegang, tetapi juga publik sepak bola Afrika secara luas. Sidang berlangsung tertutup atas permintaan para pihak, dan CAS sudah memberi peringatan bahwa keputusan akhir tidak akan dijatuhkan pada hari sidang digelar. Karena itu, pertanyaan besar soal siapa yang layak disebut kampiun masih menggantung, dan berikut adalah rangkaian peristiwa yang membawa kedua negara ke meja arbitrase.
Kronologi Kekacauan di Final Piala Afrika 2025
Di depan sekitar 66.000 penonton tuan rumah yang menciptakan atmosfer bergelora di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, Maroko tampak berada di jalur takdir untuk merebut gelar Piala Afrika pertama mereka sejak 1976. Namun pertandingan itu justru berakhir dalam kekacauan saat laga memasuki masa tambahan waktu.
Ketika kedudukan masih imbang tanpa gol, Senegal mengira Ismaila Sarr telah mencetak gol kemenangan yang dramatis. Harapan itu sirna setelah diketahui wasit Jean Jacques Ndala lebih dulu meniup peluit untuk tendangan bebas bagi Maroko. Kontroversi kemudian memuncak pada menit ke-98, ketika Ndala memberikan penalti kepada Maroko setelah meninjau ulang kejadian melalui VAR.
Emosi pun meledak di pinggir lapangan maupun di tribun penonton. Pelatih Senegal Pape Thiaw memimpin sebagian pemain dan stafnya meninggalkan lapangan menuju terowongan, sementara suporter terlibat bentrokan dengan petugas keamanan hingga ketertiban sempat runtuh. Pertandingan akhirnya dilanjutkan kembali, dan pada menit ke-124 Maroko menyia-nyiakan peluang emas untuk mengakhiri penantian 50 tahun ketika penalti Brahim Diaz yang dieksekusi dengan gaya Panenka justru masuk ke pelukan kiper Edouard Mendy.
Gol Pape Gueye di masa perpanjangan waktu kemudian memastikan kemenangan 1-0 untuk Senegal, yang mengangkat trofi juara untuk kedua kalinya. Setidaknya begitulah keyakinan mereka saat itu, sebelum semuanya berubah di meja rapat federasi.
Mengapa Hasil Final Itu Dibatalkan?
Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko (FMRF) bergerak cepat mengajukan protes kepada Konfederasi Sepak Bola Afrika (Caf) dengan dalih Senegal melanggar regulasi kompetisi. Mereka merujuk Pasal 82 dalam bab berjudul “Withdrawals”, yang menyatakan bahwa jika sebuah tim untuk alasan apa pun meninggalkan lapangan sebelum pertandingan berakhir secara resmi tanpa izin wasit, tim tersebut dianggap kalah dan tersingkir dari kompetisi yang sedang berjalan.
Pada Maret, dewan banding Caf menyepakati argumen itu. Hasilnya, Senegal dinyatakan kalah secara administratif dan Maroko diberikan kemenangan 3-0. Keputusan tersebut menjadi pukulan berat bagi Senegal, yang merasa telah meraih kemenangan secara sah di atas lapangan. Ada preseden sebelumnya ketika Caf membalik hasil pertandingan di ajang Piala Afrika maupun kualifikasi Piala Dunia, tetapi sejumlah pihak, termasuk seorang mantan pejabat senior Caf, berpendapat bahwa hanya wasit yang memiliki wewenang menghentikan pertandingan jika terjadi aksi walk-off.
FMRF beralasan hanya menuntut penerapan regulasi turnamen secara benar. Sebaliknya, FSF menyebut putusan itu “tidak adil, belum pernah terjadi sebelumnya, dan tidak dapat diterima”, lalu membawa perkara ini ke CAS. Langkah itulah yang kini menempatkan nasib gelar juara Piala Afrika 2025 di tangan para arbiter, bukan di tangan wasit atau komite disiplin.
Apa Itu Court of Arbitration for Sport?
CAS didirikan pada 1984 dan berbasis di Lausanne, Swiss. Lembaga ini dibentuk sebagai badan hukum independen untuk menyelesaikan sengketa seiring industri olahraga global yang semakin bernilai ekonomi tinggi dan, akibatnya, semakin sering berurusan dengan ranah hukum.
Bagi organisasi olahraga yang mengakui otoritasnya, CAS dianggap sebagai pemutus tertinggi, sehingga putusannya bersifat final. Hanya dalam kasus yang sangat jarang, pengadilan tertinggi Swiss dapat membatalkan keputusan CAS berdasarkan sejumlah alasan teknis yang terbatas. Setiap tahun, lebih dari 900 perkara dari lebih dari 50 cabang olahraga masuk ke meja lembaga ini, mencakup persoalan kontrak kerja dan transfer, doping, korupsi, hak siar televisi, hingga penyelenggaraan even seperti dalam sengketa kali ini.
Banding Senegal akan disidangkan oleh panel berisi tiga arbiter yang dipilih CAS berdasarkan keahlian mereka di bidang hukum olahraga. Panel ini dipimpin Gerald Simon, pria Prancis berusia 76 tahun yang merupakan pendiri Sports Law Laboratory di University of Burgundy dan telah menjadi anggota CAS selama 23 tahun. Jika panel tidak mencapai mufakat, presiden panel yang akan mengambil keputusan akhir.
Kapan Putusan Final Piala Afrika 2025 Diumumkan?
Sidang yang digelar tertutup atas permintaan para pihak diperkirakan rampung pada Kamis sore. Meski begitu, CAS telah menegaskan bahwa berakhirnya persidangan hanyalah titik awal dari proses musyawarah panel. Dalam sebuah pernyataan, pengadilan itu menyebut tidak dapat memastikan kapan keputusan akhir akan dijatuhkan, tetapi memastikan putusan tersebut tidak akan keluar pada hari sidang.
Kabar buruknya, setelah menunggu hampir sembilan bulan untuk sampai ke tahap ini, kode CAS menyatakan bahwa putusan banding harus diserahkan paling lambat empat bulan setelah sidang. Pedoman internalnya bahkan menyarankan panel menargetkan waktu kurang dari tiga bulan. Kabar baiknya, proses itu bisa berjalan lebih cepat dari batas maksimal tersebut.
Sebagai gambaran, pada 2020 Manchester City mengajukan banding ke CAS atas keputusan Uefa yang melarang mereka tampil di kompetisi antarklub Eropa karena dianggap melanggar aturan financial fair play. Sidang berlangsung 8 Juni, dan putusan yang menguntungkan City keluar pada 13 Juli. Artinya, meski jawabannya tak akan datang dalam hitungan jam, masih ada peluang kepastian juara final Piala Afrika 2025 diperoleh lebih cepat daripada tenggat resmi yang berlaku.
Dampak Jangka Panjang bagi Sepak Bola Afrika
Meski dewan banding Caf bersifat independen, pembatalan putusannya akan menjadi pukulan baru bagi reputasi badan pengatur sepak bola Afrika tersebut. Caf sebelumnya sudah mendapat banyak kritik keras karena keputusan retroaktif yang menyerahkan gelar juara kepada Maroko. Presiden Caf Patrice Motsepe pada Maret lalu menyatakan pihaknya akan mematuhi dan menghormati apa pun keputusan CAS, sehingga jika hasilnya berpihak pada Senegal, bukan tidak mungkin ada pihak yang harus mengubah buku aturan Piala Afrika.
Aksi walk-off Singa Teranga juga sudah memicu perubahan aturan sepak bola secara lebih luas. Pada April, Ifab selaku badan pembuat aturan permainan menyatakan bahwa wasit boleh memberi kartu merah kepada pemain yang meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes atas keputusan wasit. Aturan baru itu juga berlaku bagi ofisial tim yang menghasut pemain untuk keluar dari lapangan, dan tim yang menyebabkan pertandingan dihentikan pada prinsipnya dinyatakan kalah.
Di sisi lain, kedua pelatih yang terlibat dalam laga kontroversial itu sudah kehilangan pekerjaannya. Thiaw diberhentikan Senegal setelah timnya tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia, sementara Walid Regragui yang berada di bangku cadangan Maroko pada Januari lalu dipecat pada Maret. Keduanya tentu akan tetap memandang kemenangan di CAS sebagai kemenangan moral.
Apa pun hasilnya, ketegangan antara kedua federasi kemungkinan besar akan bertahan lama. Petinggi FMRF geram dengan perilaku Senegal dan menilai gambar yang tersiar ke seluruh dunia telah merusak citra Piala Afrika pertama yang digelar di Maroko sejak 1988, turnamen yang menelan investasi waktu dan biaya sangat besar. Sementara itu, FSF dan pemerintah Senegal menyuarakan perasaan yang umum di benua Afrika bahwa Maroko memiliki pengaruh terlalu besar dalam sepak bola Afrika.
Sejumlah insiden lain juga memperkeruh suasana, seperti laser yang diarahkan ke mata pemain dan ball boy yang memindahkan handuk kiper Mendy. Hal itu bahkan memuncak pada pemandangan yang nyaris tak masuk akal, ketika kiper cadangan Yehvann Diouf dijatuhkan tiga ball boy saat ia mencoba ikut campur.
Akankah Terjadi Duel Ulang di Piala Afrika Berikutnya?
Piala Afrika edisi berikutnya dijadwalkan bergulir pada Juni dan Juli tahun depan. Peluang melihat dua tim terbaik Afrika itu bertemu kembali di panggung besar menjadi gagasan yang menggoda banyak penggemar. Rivalitas baru yang lahir dari kekacauan final tahun ini bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton.
Namun ada satu hal yang disepakati semua pihak: pertemuan sebesar itu seharusnya diselesaikan di atas lapangan, bukan di ruang sidang. Sampai putusan CAS keluar, gelar juara Piala Afrika 2025 masih berada dalam ketidakpastian, dan sepak bola Afrika harus menunggu lebih lama lagi untuk mengetahui siapa yang benar-benar berhak mengangkat trofi di Rabat.
Kisah final Piala Afrika 2025 kini menjadi pengingat bahwa kemenangan di lapangan tidak selalu menjadi kata akhir. Panel CAS yang dipimpin Gerald Simon memegang kendali penuh atas keputusan yang bisa mengubah catatan sejarah, mengembalikan gelar kepada Senegal atau menegaskan kemenangan administratif Maroko. Sambil menunggu, keduanya masih harus menanggung dampak yang jauh melampaui satu pertandingan, mulai dari reputasi Caf hingga perubahan aturan permainan yang akan berlaku panjang.
