Pertanyaan besar kini menggantung di langit Liverpool: bisakah kebangkitan Everton diwujudkan David Moyes setelah timnya jatuh dari mimpi Eropa ke performa yang mengkhawatirkan? Sepanjang musim lalu, Everton sempat duduk manis di peringkat kedelapan Premier League, hanya tiga poin dari zona Liga Champions. Namun, kegagalan memenangi satu pun laga pamungkas membuat posisi mereka merosot tajam dan status mereka tak jauh berbeda dari tim-tim yang berjuang di dasar klasemen.
Moyes, yang kembali menukangi The Toffees pada 2025, kini berada di tahun terakhir kontraknya. Situasi ini menjadi ujian besar bagi pelatih berusia 63 tahun itu, terutama setelah ekspektasi tinggi dari suporter dan manajemen. Pertanyaannya, apakah pengalaman dan koneksi emosional Moyes dengan klub cukup untuk mengembalikan kepercayaan diri para pemain dan mengangkat Everton dari keterpurukan?
Dari Mimpi Eropa ke Jurang Performa Buruk
Hampir sepanjang musim 2025-26, Everton tampil meyakinkan dan membuat para pendukungnya berani bermimpi. Pemain pinjaman Jack Grealish langsung tampil apik, Kiernan Dewsbury-Hall menjadi andalan dalam memenangkan pertandingan, sementara duet striker Thierno Barry dan Beto mulai rajin mencetak gol setelah sempat kesulitan di awal musim. Kombinasi mereka membuat lini serang Everton terlihat hidup kembali dan mampu bersaing dengan tim-tim papan atas.
Puncaknya terjadi pada 21 Maret ketika Everton menghancurkan Chelsea 3-0 dan menempati peringkat kedelapan, hanya terpaut tiga angka dari empat besar dengan tujuh pertandingan tersisa. Tetapi, alih-alih mengamankan tiket Eropa, tim asuhan Moyes justru ambruk. Mereka gagal memenangi seluruh laga sisa musim, sebuah rentetan tanpa kemenangan terpanjang sejak Moyes kembali menjabat.
Kemunduran itu mulai terlihat setelah hasil imbang 2-2 melawan Brentford pada 11 April. Sejak saat itu, Everton mencatat performa terburuk dan berada di posisi tiga terbawah klasemen dalam periode tersebut, bersama Burnley yang terdegradasi dan Wolves. Padahal, sebelum laga itu, Everton masih berada di jalur yang menjanjikan dengan peluang lolos ke kompetisi Eropa yang terbuka lebar.
Kisah Dua Musim dengan Posisi yang Sama
Meski tampil buruk di akhir musim, Everton sebenarnya masih punya peluang ke Eropa ketika menjamu Sunderland pada laga kandang terakhir. Sayangnya, mereka justru kalah 3-1, sementara Sunderland yang baru promosi akhirnya finis ketujuh dan lolos ke kompetisi Eropa untuk pertama kalinya dalam 53 tahun. Kekalahan itu sekaligus memupus harapan tersisa untuk mengamankan tiket ke kompetisi antarklub Eropa.
Ironisnya, Everton finis di peringkat 13 dalam dua musim berturut-turut sejak Moyes kembali, tetapi sambutannya sangat berbeda. Saat Moyes tiba 18 bulan lalu, Everton hanya satu poin di atas zona degradasi, namun mereka mampu finis dengan keunggulan 23 poin atas tiga posisi terbawah. Suporter pun menyambut pencapaian itu dengan rasa syukur, mengingat betapa rentannya posisi tim saat itu.
Sebelum musim 2025-26, Everton menggelontorkan dana £97 juta—rekor belanja bersih klub dalam satu bursa transfer musim panas—hanya untuk finis di posisi yang sama dengan koleksi satu poin lebih banyak. CEO Everton, Angus Kinnear, sempat menyebut dirinya “happily dissatisfied” dengan musim tersebut, frasa yang membingungkan dan langsung berubah kecut setelah kekalahan dari Sunderland. Pernyataan itu menjadi simbol dari ketidakpuasan yang terselubung di tengah hasil yang sebenarnya masih bisa diterima.
Mantan gelandang Everton, Leon Osman, menilai dua kali finis di papan tengah merupakan kemajuan nyata setelah era penuh kekacauan. “Ketika David Moyes pertama kali datang, kami tancap gas dan start-nya luar biasa,” ujarnya. “Itu berlanjut lebih dari setahun sebelum masa sulit pertama muncul di akhir musim lalu. Saya tetap merasa kami berkembang musim lalu, sesuai yang kami inginkan, bersama stabilitas.”
Kontrak Moyes dan Tekanan Belanja Pemain
Di usianya yang ke-63, Moyes mengakui sulitnya bersaing dengan klub-klub yang paling boros di Premier League. Dalam lima tahun terakhir, Everton menempati peringkat ke-15 untuk belanja bersih di antara tim-tim kasta tertinggi. Situasi ini kontras dengan Bournemouth yang justru meraup untung £81 juta dari penjualan pemain dan finis di posisi keenam, atau Brighton yang mencetak profit £41 juta dan menempati peringkat kedelapan.
Pindah ke Hill Dickinson Stadium yang megah dijanjikan sebagai awal baru, tetapi catatan Everton di kandang justru memprihatinkan. Rata-rata 1,2 poin per laga di kandang musim lalu merupakan yang terendah dalam sejarah Premier League bagi tim mana pun yang baru pindah ke stadion anyar. Sebaliknya, performa tandang Everton justru masuk tujuh besar, menunjukkan ketimpangan yang aneh antara bermain di rumah sendiri dan di luar.
Osman menilai Bournemouth dan Brighton lebih maju dalam perkembangan tim dibandingkan Everton yang masih beradaptasi dengan lingkungan baru. Ia juga menyoroti cedera Grealish pada Januari sebagai faktor kunci penyebab merosotnya performa. Tanpa Grealish, tingkat kemenangan Everton anjlok dari 45 persen menjadi 22 persen, dan perolehan poin per laga turun dari 1,6 menjadi 1,0.
“David Moyes adalah manajer yang intens dan di akhir musim, skuad kecil tidak sanggup bertahan,” kata Osman. “Perubahan butuh waktu. Tidak ada yang memikirkan degradasi, itu menunjukkan apa yang sudah dilakukan Moyes. Kontraknya masih 12 bulan dan saya berharap ia menjalani sampai tuntas.”
Grealish Dipulangkan, Ndiaye Terancam Hengkang
Kesuksesan Bournemouth dan Brighton dibangun di atas model rekrutmen yang impresif. Sementara itu, strategi transfer Everton masih jauh dari sempurna. Di era pemilik sebelumnya, Farhad Moshiri, delapan pemain yang diboyong dengan harga minimal £20 juta hengkang dengan status gratis.
Setelah beberapa tahun minim belanja, Friedkin Group merekrut sembilan pemain pada musim panas lalu, meskipun fokus pada pemain muda belum memberikan hasil maksimal. Grealish dan Dewsbury-Hall tampil sukses, tetapi winger berusia 20 tahun Tyler Dibling yang dibeli £35 juta dari Southampton baru tampil enam kali sebagai starter. Bek kiri muda Adam Aznou belum menjalani debut Premier League, sementara striker Barry yang memenangi duel udara terbanyak justru inkonsisten di depan gawang. Merlin Rohl sempat kesulitan mendapat menit bermain sebelum tampil impresif dalam empat laga start di bulan Mei.
Menurut reporter BBC Radio Merseyside, Giulia Bould, Grealish dijadwalkan menandatangani kesepakatan pinjaman baru menjelang akhir bursa transfer bulan ini. Pemain berstatus pinjaman itu masih memulihkan diri dari patah tulang di kaki, dengan gaji yang diprediksi tetap berada di angka sekitar £200 ribu per pekan. Kepulangannya diharapkan mampu mengembalikan daya gedor Everton yang sempat meredup sejak ia absen.
Di sisi lain, Iliman Ndiaye dikaitkan dengan kepindahan ke Arab Saudi. Osman, yang mendapat debut Everton dari Moyes pada 2003, menyambut baik kembalinya Grealish tetapi dengan catatan harga yang masuk akal. “Ndiaye, saya tidak ingin kehilangan dia. Mungkin ada titik di mana harganya cocok dan Everton bisa reinvestasi untuk dua atau tiga pemain, tetapi saya pikir mereka harus melakukan segalanya untuk mempertahankannya,” tuturnya.
Tantangan Kebangkitan Everton: Skuad Tipis dan Pemain Muda
Kehilangan pemain berkualitas tanpa reinvestasi cerdas bukanlah sesuatu yang bisa ditanggung Everton. Pasalnya, skuad mereka termasuk yang paling kecil di Premier League, dan statistik musim lalu menunjukkan betapa terbatasnya opsi yang dimiliki Moyes di bangku cadangan. Beberapa angka berikut menggambarkan situasi tersebut:
- Moyes hanya memakai 22 pemain di liga—jumlah terendah dibandingkan tim lain.
- 128 pergantian pemain dilakukan, setidaknya enam kali lebih sedikit dari manajer mana pun.
- Pemain berusia 21 tahun ke bawah hanya bermain 1.088 menit, menempatkan Everton di peringkat ke-17 Premier League.
Everton tetap mengarahkan sebagian besar rekrutmen mereka pada pemain yang sedang berkembang. Hayden Hackney, gelandang tengah berusia 24 tahun, didatangkan dari Middlesbrough seharga £16,5 juta pada Juli, bersama winger berusia 20 tahun Tyrique George yang dibeli dari Chelsea dengan banderol £18 juta setelah dipinjamkan pada paruh kedua musim lalu. Bek kanan Celtic, Alistair Johnston, dikaitkan dengan Everton untuk mengisi posisi yang bermasalah, sementara gelandang Arsenal berusia 32 tahun, Christian Norgaard, dikabarkan akan segera tiba.
Rata-rata usia rekrutan pada masa kedua Moyes di bawah 24 tahun, termasuk tiga pemain berusia 20 tahun atau lebih muda. Namun, minimnya menit bermain untuk talenta muda menunjukkan kesenjangan antara kebijakan rekrutmen dan kepercayaan pelatih. Kepergian Seamus Coleman dan Idrissa Gueye menghilangkan lebih dari 600 penampilan Premier League dari skuad, menjelaskan minat klub pada Norgaard. Sementara itu, gelandang kunci James Garner dipastikan absen di awal musim setelah menjalani operasi selangkangan.
Kondisi ini menempatkan Moyes pada posisi paradoks: ia mungkin harus mengandalkan pemain muda yang tampaknya enggan ia percaya. “Mereka perlu menunjukkan bahwa mereka mampu dan layak bermain,” kata Osman. “Saya berharap setelah satu tahun memahami tuntutan yang ada, pemain seperti Dibling dan George bisa berkembang, dan tiba-tiba skuad kami terlihat lebih bisa diandalkan.”
Jalan menuju kebangkitan Everton bersama Moyes tidak akan mudah. Tim ini harus menghadapi persoalan skuad yang tipis, strategi transfer yang belum konsisten, serta tekanan ekspektasi suporter yang sempat merasakan manisnya mimpi Eropa. Namun, kembalinya Grealish dan potensi kedatangan pemain berpengalaman seperti Norgaard memberikan secercah harapan di tengah ketidakpastian.
Dengan kontrak yang tersisa satu musim, Moyes harus membuktikan bahwa dirinya masih manajer yang tepat untuk membawa The Toffees keluar dari lingkaran performa buruk. Apa pun yang terjadi, musim 2026-27 akan menjadi penentu apakah era kedua Moyes berakhir manis atau justru menjadi elegi lain dalam kisah panjang Everton. Para pendukung pun menanti dengan napas tertahan, berharap kebangkitan Everton benar-benar dimulai dari musim ini.
