Kegembiraan Kolektif Mesir di Piala Dunia yang Satukan Bangsa

Selama hampir 15 menit, Mesir nyaris menciptakan salah satu kejutan terbesar dalam sejarah Piala Dunia. Saat itu, tim Firaun unggul 2-0 atas Argentina, juara dunia bertahan. Kiper Mostafa Shobeir baru saja menggagalkan penalti Lionel Messi yang ingin menyamakan kedudukan. Namun, di penghujung babak kedua, Argentina bangkit dengan luar biasa. Dikatalisasi oleh sang ikon, mereka mencetak tiga gol dalam 13 menit untuk merebut tiket perempat final dan mengakhiri perjalanan magis Mesir.

Pertandingan dramatis itu mengubah euforia Mesir menjadi kekecewaan, bahkan kemarahan atas beberapa keputusan wasit yang dianggap lebih menguntungkan Argentina. Namun, di tengah frustrasi, ada juga benih kebanggaan yang mulai tumbuh. Saat tim Mesir kembali ke hotel mereka di Atlanta, mereka disambut oleh gerombolan penggemar yang berkumpul untuk menunjukkan apresiasi. Ini adalah sambutan emosional; para pemain berdiri dan bertepuk tangan dalam momen syukur bersama — sebuah pengingat bahwa, meski berakhir pilu, tim ini telah memberikan kegembiraan kolektif Mesir pertama dalam 15 tahun, sejak revolusi Mesir 2011.

Krisis Ekonomi dan Sepak Bola sebagai Pelarian

Selama beberapa tahun terakhir, Mesir dilanda salah satu krisis ekonomi terburuk dalam sejarah modernnya. Beban utang yang membengkak, dipicu oleh pengeluaran besar-besaran pemerintah untuk proyek-proyek megah, memicu rentetan konsekuensi ekonomi: inflasi yang tak terkendali, kelangkaan valuta asing yang terus-menerus, dan nilai tukar mata uang domestik yang terus merosot terhadap dolar. Bagi warga biasa, dampaknya sangat nyata. Upah tidak mampu mengimbangi harga-harga yang naik, sehingga biaya kebutuhan pokok semakin tidak terjangkau dan menekan anggaran rumah tangga. Lebih dari 70% dari 118 juta penduduk Mesir bergantung pada program subsidi roti pemerintah, menjadikannya program subsidi pangan terbesar di Timur Tengah dan Afrika Utara.

Kolektif Mesir di Piala Dunia

Tanpa prospek dan sedikit harapan, warga Mesir — termasuk saya sendiri — secara tradisional berpaling ke sepak bola sebagai sumber kebahagiaan sesaat. Sepak bola Mesir memiliki sejarah panjang. Mereka adalah salah satu anggota pendiri Piala Afrika (Afcon) dan memenangkan gelar perdana pada 1957. Saat itu, Mesir baru saja keluar dari Krisis Suez; Mesir yang merdeka dan bebas, mengangkat trofi tersebut menjadi simbol kuat bagi Afrika yang baru bangkit. Mesir telah memenangkan turnamen itu sebanyak tujuh kali (rekor), tetapi belum pernah lagi sejak Musim Semi Arab — tahun yang sama ketika Mohamed Salah pertama kali tampil di tim nasional.

Tragedi Port Said dan Dampaknya pada Tim Nasional

Pada Februari 2012, kerusuhan terjadi setelah pertandingan Liga Premier Mesir antara Al Ahly Kairo, klub tersukses di Afrika, dan Al Masry di Port Said. Tujuh puluh empat orang tewas dan lebih dari 500 terluka. Sebagian dipukuli sampai mati dengan tongkat dan stik; sebagian ditikam; lainnya terinjak-injak. Petugas menolak membuka gerbang stadion, menjebak penggemar di dalam dan menyebabkan desak-desakan. Investigasi parlemen menyalahkan penggemar dan kelambanan polisi. Sebagai respons atas tragedi terburuk dalam sejarah sepak bola Mesir, pemerintah menutup liga selama dua tahun. Ini berdampak buruk pada tim nasional.

Sejak revolusi, Mesir mencapai final Afcon dua kali (2017 dan 2021). Negara ini menjadi tuan rumah turnamen pada 2019, tetapi mengalami kekalahan mengejutkan di babak 16 besar oleh Afrika Selatan, dalam kampanye yang dibayangi kontroversi — termasuk tuduhan pelecehan seksual terhadap penyerang Amr Warda. Dua tahun kemudian, Firaun yang dikapteni Salah kalah di final melalui adu penalti dari Senegal milik Sadio Mané.

Rekor Piala Dunia yang Akhirnya Terpecahkan

Rekam jejak Mesir di Piala Dunia juga menjadi luka bagi para penggemar. Meski berpartisipasi sejak 1934, tim ini belum pernah memenangkan pertandingan Piala Dunia hingga bulan lalu, saat mereka mengalahkan Selandia Baru. Itulah yang membuat tim Mesir saat ini begitu luar biasa. Mereka melaju di fase grup tanpa terkalahkan dan mencapai babak 16 besar untuk pertama kalinya.

Namun pencapaian terbesar mereka adalah memberi bangsa ini alasan langka untuk merayakan bersama. Mereka melakukannya dengan kegembiraan menular, berdansa dengan pendukung di jalanan setelah pertandingan, Salah bernyanyi dengan pengeras suara di tangan, dan mengingatkan semua orang bahwa bagi Mesir, ini bukan sekadar sepak bola.

Dukungan dari Palestina, Libya, dan Lebanon

Sebagai salah satu dari hanya dua tim — bersama Maroko — yang mencapai babak 16 besar dari luar Eropa dan Amerika, Mesir juga membawa harapan dan impian dari banyak kelompok, baik di seluruh benua Afrika maupun dunia Arab. Di Libya, ratusan orang berkumpul di Alun-alun Martir di Tripoli, menyanyikan lagu-lagu Mesir dan mengibarkan bendera negara itu setelah kemenangan Mesir atas Australia melalui adu penalti. Di Lebanon, perayaan meluber ke jalan-jalan, dengan bendera Lebanon dan Mesir dikibarkan saat orang-orang menari dan berpesta di berbagai kota.

Komite Rekonstruksi Gaza Mesir mengorganisir acara nonton bersama untuk keluarga Palestina yang mengungsi agar bisa menyaksikan pertandingan Mesir. Komite menyediakan layar, tempat duduk, dan listrik di tempat-tempat seperti Gaza City untuk memberikan momen hiburan yang langka. Anak-anak berselimut bendera Mesir, sementara yang lain berkumpul untuk bersorak bagi Salah dan skuad Mesir. Di mata mereka, kemenangan Mesir adalah kemenangan mereka. (Direktur komite, Mohammed Fawaz al-Wahidi, tewas dalam serangan Pasukan Pertahanan Israel beberapa jam setelah Mesir bermain melawan Argentina.)

Pelatih kepala Mesir, Hossam Hassan, mengibarkan bendera Palestina di Stadion Dallas setelah kemenangan Mesir atas Australia. “Saya mendedikasikan kemenangan ini untuk rakyat Mesir dan rakyat Palestina, orang-orang yang baik dan terhormat itu,” ujarnya.

Dari Purgatorium ke Sumber Inspirasi Bangsa

Penampilan beberapa hari kemudian melawan Argentina mengukuhkan transformasi Mesir dari tim yang terperangkap dalam purgatorium sepak bola menjadi skuad berbakat yang mampu menginspirasi sebangsanya dan berdiri sejajar dengan yang terbaik. Setelah kekalahan, Federasi Sepak Bola Mesir (EFA) merilis pernyataan yang berterima kasih kepada rakyat Mesir atas “dukungan, loyalitas, dan keyakinan yang tak tergoyahkan” selama turnamen, yang disebut sebagai “sumber kebanggaan dan motivasi yang luar biasa”. Penampilan itu, kata pernyataan tersebut, “telah mencerminkan semangat dan karakter bangsa kami”. EFA juga mengatakan tidak akan “tinggal diam mengenai keputusan wasit yang disaksikan selama pertandingan”.

Kesuksesan Mesir tidak menghapus atau menutupi tantangan politik atau sosial-ekonomi negara ini, tetapi persatuan dan kegembiraan kolektif Mesir yang menyapu jalan-jalan sungguh luar biasa untuk disaksikan. Untuk sesaat, jutaan warga Mesir menemukan titik temu dalam harapan, perayaan, dan identitas nasional.

Untuk sementara waktu, Mesir akhirnya mematahkan kutukan para Firaun.