Berita Sepak bola

Oli McBurnie Kembali, Siap Buktikan Diri di Skotlandia

Oli McBurnie akhirnya kembali ke Timnas Skotlandia setelah hampir lima tahun menunggu di luar skuad, dan ia bertekad membuktikan bahwa dirinya masih layak diperhitungkan. Penyerang Hull City itu masuk dalam daftar pemain yang dipanggil pelatih kepala baru, Sebastien Pocognoli, untuk rangkaian pertandingan Nations League. Kesempatan tersebut datang setelah bertahun-tahun ia merasa tersisih di era kepemimpinan Steve Clarke.

Pemanggilan ini bukan sekadar kabar rutin soal rotasi pemain. McBurnie selama ini identik dengan kontroversi: 16 caps tanpa satu pun gol, sebuah video lama yang dianggap meremehkan tim nasional, serta citra sebagai sosok yang tidak terlalu peduli pada Skotlandia. Kini, di usia 30 tahun, ia datang membawa cerita yang berbeda dan ambisi besar untuk mengubah penilaian orang terhadap dirinya.

Oli McBurnie dan Jadwal Padat Nations League Bersama Skotlandia

Skotlandia akan menjalani beberapa laga Nations League dalam waktu berdekatan, dan McBurnie masuk dalam rencana Pocognoli untuk menghadapinya. Laga pertama adalah lawatan ke markas Slovenia di Stadion Stozice, Ljubljana, pada Sabtu, 26 September, pukul 14.00 waktu Inggris. Setelah itu Skotlandia masih akan bertemu Slovenia sekali lagi, lalu menghadapi Swiss dan Makedonia Utara. Persiapan menuju rangkaian pertandingan tersebut dilakukan di pemusatan latihan La Manga, dan di situlah McBurnie berbicara terbuka kepada BBC Sport Scotland.

Alasan pemanggilan ini cukup jelas jika melihat catatan performanya di level klub. Musim lalu bersama Hull, ia mencetak 19 gol, dan salah satu yang paling dikenang adalah gol pada menit ke-95 di laga play-off melawan Middlesbrough yang mengantar Hull promosi ke Premier League. Musim ini ia memang belum mencetak gol, tetapi penampilannya dinilai tetap solid dan Hull tampil baik. Karena itu, ia disebut sebagai kandidat terkuat untuk mengisi posisi ujung tombak saat melawan Slovenia.

Bagi McBurnie, mandat yang diberikan pelatih baru ini terasa seperti pintu yang lama tertutup lalu tiba-tiba terbuka. Ia menyebut perjalanan panjangnya kembali ke skuad sebagai hal yang tidak selalu terlihat mungkin. “Ada masa-masa ketika sepertinya saya tidak akan pernah kembali,” ujarnya. Ia mengaku kini jauh lebih menghargai kesempatan itu karena usianya sudah tidak muda lagi.

Bayang-Bayang Steve Clarke dan Telepon Sebelum Skuad Piala Dunia

Nama Steve Clarke nyaris tidak bisa dipisahkan dari kisah absennya McBurnie. Selama Clarke menangani Skotlandia, performa bagus McBurnie di level klub seolah tidak pernah cukup untuk menarik perhatiannya. McBurnie sendiri memilih berbicara secara diplomatis, dengan mengatakan bahwa Clarke “punya alasan sendiri atas apa yang dilakukannya”. Ia tidak ingin membuka konflik baru meski perasaannya sempat hancur.

Salah satu momen yang paling membekas terjadi sebelum Clarke mengumumkan skuad Piala Dunia. McBurnie menelepon sang pelatih untuk menanyakan peluangnya masuk daftar, sekaligus mencari tahu apa yang perlu ia perbaiki. Jawabannya jelas: ia tidak masuk hitungan. Yang kemudian membuat situasi memanas adalah keputusan McBurnie menceritakan isi percakapan itu ke publik, sesuatu yang tidak disukai Clarke.

“Saya meneleponnya dan bilang saya merasa sedang bermain dengan baik, lalu saya ingin tahu alasannya dan apakah ada yang bisa saya perbaiki. Hasilnya ya seperti yang terjadi,” jelas McBurnie. Ia menegaskan tidak ada nada permusuhan dalam pembicaraan itu dan memahami keputusan pelatih sepenuhnya. Meski begitu, ia mengaku sangat kecewa karena meyakini dirinya punya sesuatu yang bisa ia sumbangkan untuk Skotlandia, terutama di ajang sebesar Piala Dunia.

Video 2019 dan Stigma sebagai Pemain Bermasalah

Citra McBurnie sebagai pemain yang merusak suasana tim tidak muncul begitu saja. Pada 2019, saat masih memperkuat Sheffield United, ia terekam kamera sedang berbicara dengan rekan senegaranya, John Fleck, dan mengaku berharap tidak dipanggil Skotlandia karena situasinya saat itu sedang tidak nyaman. Rekaman itu bocor ke publik dan menjadi salah satu alasan sebagian pendukung Skotlandia enggan melihatnya kembali berseragam tim nasional.

McBurnie menjelaskan bahwa rekaman tersebut berasal dari konten di balik layar dan ucapannya tidak dimaksudkan untuk keluar ke publik. Menurutnya, ia terbiasa melontarkan hal-hal berlebihan demi reaksi, sebagian justru sebagai bentuk perlindungan diri dari rasa tidak percaya diri. “Itu sesuatu yang seharusnya tidak saya ucapkan,” akunya. Ia langsung menelepon Clarke untuk meminta maaf, dan Clarke menerimanya dengan catatan ia juga harus meminta maaf kepada seluruh rekan setim.

Ia juga menyoroti bahwa anggapan dirinya sebagai figur negatif di skuad tidak pernah benar-benar dibuktikan siapa pun yang berada di dalam tim. Yang justru terdengar dari lingkungan tim nasional adalah sosok dengan kepribadian besar dan rekan setim yang baik, terlepas dari apakah ia bermain atau hanya duduk di bangku cadangan. “Saya berharap siapa pun yang pernah bekerja dengan saya akan bilang bahwa satu hal yang saya usahakan adalah menjadi rekan setim yang baik,” katanya.

Al Pacino, Las Palmas, dan McBurnie yang Kini Berbeda

Hal pertama yang sering disadari orang saat berbicara dengan McBurnie adalah tato besar wajah Al Pacino dalam karakter Tony Montana di lengan kirinya. Ia menyebut Scarface sebagai film favoritnya dan mengaku tertarik pada sosok yang tahu persis apa yang diinginkannya, meski tidak membenarkan semua cara yang dipakai karakter itu. Percakapan tentang film tersebut jadi pembuka ringan sebelum ia membahas hal-hal berat.

Sejak terakhir kali mengenakan jersey Skotlandia, hidup McBurnie berubah banyak. Ia kini punya dua anak dan seorang tunangan, serta pernah menghabiskan setahun berkarier di Spanyol bersama Las Palmas. Pengalaman-pengalaman itu, menurutnya, membuka cara pandang dan menumbuhkan rasa syukur. Ia mengaku dirinya sekarang orang yang berbeda, lebih percaya diri, dan lebih tenang dengan keadaannya.

Kedewasaan itu pula yang membuatnya lebih siap menghadapi tekanan. Ia sadar masih menyimpan sisi agresif, tetapi prioritasnya kini bertumpu pada keluarga. Ia bahkan menganggap wajar bila penggemar lawan tidak menyukainya, karena itu berarti ia dianggap merepotkan di lapangan. Satu hal yang belum berubah adalah ambisinya mencetak gol untuk negaranya, yang ia gambarkan bisa datang dari cara apa pun, termasuk tap-in sederhana atau bola yang membentur tubuhnya lalu masuk ke gawang.

Arti Kembalinya McBurnie bagi Skotlandia dan Hull

Bagi Skotlandia, kehadiran McBurnie menambah opsi lini depan yang sebelumnya terbatas. Ia adalah tipe penyerang yang bisa menjaga bola, berduel fisik, dan menyelesaikan peluang di kotak penalti, kemampuan yang tetap dibutuhkan di laga-laga ketat Nations League. Pergantian pelatih dari Clarke ke Pocognoli sendiri menjadi faktor utama perubahan ini, karena pelatih baru cenderung menilai pemain dari performa terkini di klub, bukan dari rekam jejak masa lalu.

Bagi Hull, situasinya lebih rumit. Klub tentu berharap McBurnie kembali dari tugas negara tanpa cedera dan dalam kondisi percaya diri yang tinggi. Namun, tambahan menit bermain di level internasional juga bisa berdampak pada kebugaran pemain di tengah jadwal kompetisi yang padat. Klub dan tim nasional sama-sama punya kepentingan atas kondisi fisiknya.

Adapun bagi McBurnie secara pribadi, laga-laga ini adalah ujian sekaligus peluang untuk memutus dua narasi sekaligus: bahwa ia tidak produktif di tim nasional dan bahwa ia bukan sosok yang cocok untuk ruang ganti Skotlandia. Gol pertamanya akan menjadi simbol yang jauh lebih kuat daripada seribu penjelasan.

Konteks Lebih Luas: Nations League dan Peluang yang Terbuka

Kasus McBurnie menggambarkan pola yang cukup umum di sepak bola: seorang pemain yang performanya di klub tidak selalu sejalan dengan penerimaan di tim nasional. Perbedaan gaya bermain, preferensi pelatih, hingga faktor di luar lapangan dapat menentukan nasib seorang pemain. Ketika kursi kepelatihan berganti, banyak pemain yang sebelumnya tersingkir justru mendapat kesempatan kedua karena penilaian dimulai dari nol.

Rangkaian laga melawan Slovenia, Swiss, dan Makedonia Utara memberi McBurnie beberapa kesempatan, bukan hanya satu. Jika ia mampu tampil meyakinkan, posisinya di skuad bisa bertahan lebih lama dan membuka peluang di ajang yang lebih besar. Sebaliknya, rangkaian pertandingan ini juga bisa berjalan cepat dan selesai tanpa jejak jika ia tidak mampu memanfaatkannya.

Yang menarik, McBurnie sendiri tidak datang dengan retorika besar. Ia berbicara soal rasa syukur, penyesalan, dan keinginan memperbaiki diri, bukan soal membalas dendam kepada pelatih lama. Sikap itu justru membuat ceritanya terasa lebih matang dibandingkan lima tahun lalu ketika ia meninggalkan skuad dengan segudang kontroversi.

Penutup

Kembalinya Oli McBurnie ke Timnas Skotlandia adalah kisah tentang kesempatan kedua yang datang melalui perubahan pelatih, kerja keras di level klub, dan kedewasaan yang ia raih selama masa absen. Modal 19 gol bersama Hull menjadi dasar pemanggilan itu, sementara catatan 16 caps tanpa gol menjadi beban yang ingin ia hapus secepat mungkin.

Semua pembicaraan soal masa lalu, video lama, dan perseteruan dengan Steve Clarke pada akhirnya akan diukur lewat satu hal sederhana: apakah ia bisa mencetak gol untuk Skotlandia. Pocognoli sudah memberi jalan masuk yang selama ini ia tunggu, dan kini semuanya kembali kepada McBurnie sendiri.

Exit mobile version