Sheffield FC, yang dianggap sebagai klub sepak bola tertua di dunia, menjadi subjek seri podcast enam bagian bertajuk “Mud, Sweat and Cheers: Trouble at the Bottom – Sheffield FC” dari BBC Local dan BBC Radio Sheffield. Podcast ini menyoroti musim luar biasa klub yang berdiri sejak 1857 tersebut, dengan penyanyi-penulis lagu Sheffield, Self Esteem, sebagai host. Klub yang akrab dijuluki “The Club” ini punya tempat istimewa dalam sejarah sepak bola karena membantu merumuskan banyak aturan modern lewat “Sheffield Rules”.
Ketertarikan terhadap Sheffield FC dari Qatar sebenarnya bukan hal baru. Delegasi dari negara tersebut sudah berkunjung pada 2017 menjelang Piala Dunia 2022. Meski Yorkshire AI Labs yang didukung dana Timur Tengah sempat menyatakan rencana membangun stadion 15.000 kursi dan museum sepak bola, justru Jon McClure, vokalis band indie asal Sheffield, Reverend and the Makers, yang kemudian menjadi chairman pada Maret. McClure pun blak-blakan soal posisinya dan tujuan klub.
Fakta Utama: Podcast dan Kepemimpinan Baru Sheffield FC
Podcast enam bagian ini merekam secara mendalam dinamika Sheffield FC pada musim yang tidak biasa. Klub ini didirikan pada 1857 dan diakui luas sebagai yang tertua di dunia, tetapi ironisnya belum pernah mentas di Football League. Pencapaian terbaik mereka di Piala FA hanya sampai babak keempat pada 1879 dan 1880. Di sisi lain, Sheffield FC adalah satu dari hanya dua klub yang menerima Order of Merit FIFA, bersama Real Madrid yang telah 15 kali menjuarai Piala Eropa.
McClure menyadari betul bahwa ia bukan sosok seperti Ryan Reynolds. “Ini bukan Wrexham. Saya bukan Ryan Reynolds. Biar jelas, saya ini anggota band indie. Saya tahu posisi saya di dunia ini,” ujarnya kepada BBC Radio Sheffield pada Maret. Ia mengaku banyak menerima saran dari orang-orang sepak bola dan tidak akan ikut campur dalam urusan teknis sepak bola. Meski begitu, ia juga mengambil alih tim wanita klub yang berlaga di tier keempat.
Rencana McClure untuk Sheffield FC cukup ambisius: akademi sepak bola, pusat eSports, festival sepak bola nasional, merek pakaian, pusat pengunjung, acara TV, dan membawa klub kembali bermain di kota kelahirannya. Sejak 2001, mereka bermarkas di Coach and Horses Ground di Dronfield, Derbyshire Utara, tepat di belakang pub bernama sama. Kondisi stadion itu disebut sudah tidak ideal, dengan seorang suporter wanita mengeluh toilet wanitanya “menjijikkan” dalam podcast.
Latar Belakang: Sejarah Panjang dan Markas yang Kurang Terawat
Sheffield FC punya akar sejarah yang kuat. Klub ini membantu meletakkan dasar aturan sepak bola modern melalui “Sheffield Rules”, sehingga tak heran jika mendapat pengakuan dunia. Namun, prestasi di lapangan tidak sebanding dengan warisan sejarahnya. Mereka tidak pernah bermain di Football League dan prestasi terbaik di Piala FA hanya terjadi di abad ke-19. Hingga kini, klub berjuang di kompetisi tingkat bawah, jauh dari sorotan liga utama.
Masalah markas menjadi sorotan. Sejak 2001 mereka menempati Coach and Horses Ground, yang secara fasilitas jauh dari memadai. McClure menyoroti situs rumah asli klub yang kini ditempati toko bangunan B&Q. “Saya pikir semua orang ingin klub kembali ke kota, tapi hanya Sheffield yang bisa menemukan sepak bola lalu membangun parkiran B&Q di atasnya,” katanya. Ini menjadi simbol betapa kota Sheffield kurang menghargai warisan sepak bolanya sendiri.
McClure menilai Sheffield dan klubnya belum cukup merayakan peran mereka dalam sejarah sepak bola. “Sudah terlalu lama kota ini tidak membanggakan diri sendiri. Sudah cukup,” ujarnya. “Sekarang saatnya kita berdiri dan mengatakan kota ini luar biasa. Kami menemukan permainan ini, dan klub ini menemukan permainan ini, dan kami akan merayakannya.” Sentimen ini juga dirasakan para suporter yang menganggap Sheffield FC seharusnya lebih dihormati.
Dampak dan Implikasi: Strategi McClure dan Dinamika di Lapangan
Di lapangan, Sheffield FC berjuang untuk promosi dari Northern Counties East League Premier Division pada akhir musim 2025-26. Untuk meningkatkan atmosfer, McClure menggratiskan tiket bagi anak di bawah 16 tahun. “Kami mendorong promosi. Tentu, kami punya program anak-anak U16 masuk gratis,” katanya. Ia bahkan berjanji membelikan pie untuk para suporter muda jika mereka mau bersuara lebih riuh. “Mereka anak-anak baik. Saya bilang, bawa drum, nanti saya belikan pie. Jadi saya berutang pie untuk mereka semua,” tambahnya.
Namun, tidak semua orang senang dengan kehadiran suporter baru. Ada keluhan soal perlakuan kasar terhadap pemain, dan dalam satu pertandingan, pengumuman melalui pengeras suara meminta penonton “menahan diri dari melempar minuman” setelah seorang suporter diguyur limun. Ini menunjukkan tantangan mengelola budaya suporter di klub yang tengah berbenah.
Di sisi lain, ada kisah menarik dari striker Alex Hardwick yang menjadi mesin gol klub. Di luar lapangan, Hardwick bekerja sebagai design engineer di AMRC (advanced manufacturing research centre). Ia terlibat dalam proyek dari nuklir hingga otomotif. “Saya bekerja di gedung desain dan prototipe. Saya mengerjakan berbagai proyek, dari nuklir sampai otomotif,” ujarnya. Hardwick juga sering membantu rekan setim yang punya masalah mobil, meski beberapa di antaranya “tidak tahu cara kerja mesin”.
Pelatih Vill Powell mengakui Hardwick membawa dinamika berbeda di ruang ganti, baik dari segi pembicaraan, lelucon, maupun kepribadiannya. Kakek dan nenek Hardwick adalah penggemar nomor satunya di stadion. “Saya suka sekali. Saya menikmatinya. Saya kecewa kalau dia tidak mencetak gol,” kata neneknya. Kakeknya menambahkan, “Kami selalu mendukungnya. Saya tidak pernah mengecewakannya. Nilai? Ya, saya beri 9,5.”
Konteks Lebih Luas: Sheffield FC di Tengah Tren Kebangkitan Klub Kecil
Kisah Sheffield FC tidak lepas dari fenomena klub kecil yang mendadak jadi sorotan. Wrexham, misalnya, melesat dari National League ke Championship setelah diakuisisi aktor Hollywood Ryan Reynolds dan Rob McElhenney. McClure sadar betul perbedaan konteksnya. Ia tidak berusaha meniru Wrexham, melainkan fokus pada identitas unik Sheffield FC sebagai klub tertua di dunia. Namun, ambisinya juga besar: akademi, eSports, festival, hingga acara TV.
McClure ingin membawa klub kembali ke Sheffield, kota yang melahirkan sepak bola modern. Ia menilai sudah saatnya kota itu bangga pada warisannya. “Sudah terlalu lama kota ini tidak bersuara tentang dirinya. Sudah cukup,” tegasnya. Para suporter pun sepakat. Satu di antaranya mengatakan, “Jika klub pertama di dunia ini berbasis di Manchester, itu akan diberitakan di mana-mana. Jika di London, juga sama. Kita tidak melakukan apa-apa.” Suporter lain menambahkan, “Saya yakin Sheffield Club seharusnya dihargai lebih tinggi.”
Seperti halnya pengelola klub lain, McClure menginginkan satu hal yang paling berharga bagi klub sepak bola tertua di dunia: waktu. Saat mengambil alih, ia berpesan, “Nilai dalam setahun. Jika tidak ada perubahan nyata ke arah lebih baik, temui saya di pertandingan dan diskusikan kenapa menurut Anda begitu.” Pernyataan ini menunjukkan ia sadar bahwa perubahan besar tidak terjadi dalam semalam, terutama di klub dengan keterbatasan sumber daya namun kaya sejarah.
Sheffield FC memang bukan Wrexham, dan Jon McClure bukan Ryan Reynolds. Namun, klub tertua di dunia ini punya cerita yang tak kalah menarik: perpaduan sejarah panjang, tekanan dari investor asing, dan upaya seorang musisi lokal untuk membangkitkan kembali kebanggaan kota. Podcast BBC enam bagian ini menangkap dinamika tersebut, dari lapangan berlumpur hingga janji pie bagi suporter muda.
Yang paling dinanti kini adalah apakah ambisi McClure bisa terwujud dalam setahun. Dengan tiket gratis untuk anak-anak, rencana akademi, dan seruan agar Sheffield lebih menghargai warisannya, Sheffield FC berada di persimpangan antara nostalgia dan masa depan. Bagi para penggemar, satu hal yang pasti: klub ini layak mendapat sorotan lebih besar, bukan hanya sebagai catatan sejarah, tetapi juga sebagai kekuatan hidup di sepak bola Inggris.
