top tech slot

Takeover Derby County Batal, Turki Alalshikh Mundur

Turki Alalshikh

Rencana takeover Derby County batal total. Turki Alalshikh, pejabat pemerintah Arab Saudi, memutuskan menghentikan pengambilalihan klub Championship tersebut. Padahal, kesepakatan dengan perusahaannya, Lion Sport, sempat direstui English Football League (EFL) dan Independent Football Regulator (IFR).

Kabar ini menjadi pukulan bagi Derby County yang sudah menanti kepastian kepemilikan sejak Mei lalu. Klub kini secara resmi menyatakan tidak lagi dijual dan tetap beroperasi di bawah naungan Clowes Developments, pemilik yang selama ini mendanai klub. Keputusan Alalshikh mundur sekaligus mengakhiri proses panjang yang sempat berjalan berbulan-bulan.

Rencana Takeover Derby County Batal, Klub Resmi Off Market

Derby County mendapat kabar pada Senin bahwa Alalshikh tidak lagi melanjutkan rencana pembelian saham pengendali klub. Padahal, prosesnya sudah berjalan sangat jauh, termasuk persetujuan dari regulator sepak bola Inggris. BBC Radio Derby memahami bahwa kesepakatan itu mencakup pengambilalihan saham mayoritas atau controlling stake di Derby County.

Manajemen klub langsung merespons dengan pernyataan resmi yang menegaskan status terkini. “Untuk menghilangkan keraguan, klub saat ini off the market,” demikian bunyi pernyataan klub. “Klub akan terus beroperasi dengan dukungan loyal, berkomitmen, dan tak tergoyahkan dari Clowes Developments.”

Alasan Turki Alalshikh Mundur: Proses Regulasi Terlalu Lama

Alalshikh buka suara melalui media sosial X soal pembatalan ini. Ia mengucapkan terima kasih kepada pihak Derby County yang terlibat dalam negosiasi, tetapi menegaskan bahwa lamanya proses ratifikasi menjadi faktor utama. Menurutnya, waktu yang dihabiskan untuk menunggu persetujuan membuat persiapan musim tidak mungkin dilakukan.

“Kami paham bahwa proses IFR membutuhkan waktu dan kami menghormati pentingnya hal itu,” tulis Alalshikh di X. “Namun sayangnya, dengan musim yang sudah dimulai, kami tidak punya waktu untuk menyiapkan tim atau klub untuk musim ke depan.” Ia menambahkan bahwa setelah pertimbangan matang, ia merasa tidak tepat melanjutkan langkah ini tanpa persiapan yang memadai.

Meski begitu, Alalshikh membuka peluang kerja sama di masa depan. Ia menegaskan akan tetap menjalin komunikasi dengan klub untuk melihat peluang yang mungkin dilakukan. “Kami akan tetap berkomunikasi dengan klub dan melihat apa yang mungkin dilakukan ke depannya,” imbuhnya.

Kronologi Proses Regulasi yang Berlarut

Kesepakatan untuk Alalshikh, yang juga pendiri perusahaan promotor tinju Zuffa, mengambil saham pengendali Derby County sebenarnya sudah berada di meja regulator sejak Mei. Proses penilaian kemudian berjalan selama berbulan-bulan sebelum akhirnya gagal di ujung jalan. Juru bicara IFR menjelaskan bahwa pihaknya memiliki kewajiban statutori untuk menguji semua calon pemilik klub di lima divisi teratas sepak bola pria Inggris.

Menurut IFR, penilaian terhadap Alalshikh sebenarnya selesai dalam 55 hari dari batas 90 hari yang diizinkan hukum. IFR bahkan telah mengambil “keputusan awal” atau minded-to decision untuk menyetujui tawaran tersebut sebelum musim 2026-27 dimulai. Keputusan itu telah dikomunikasikan kepada semua pihak pada pekan lalu.

Dalam setiap kasus, IFR mempertimbangkan sejumlah hal yang sudah ditetapkan undang-undang. Penilaian mencakup kesehatan finansial calon pemilik, kecukupan sumber daya keuangan, asal-usul kekayaan, serta kejujuran dan integritas. Regulator juga memeriksa catatan kriminal, perkara perdata, dan investigasi regulasi lainnya terhadap calon pemilik.

Kontroversi dan Kecaman Aktivis HAM

Rencana takeover Derby County batal ini sebenarnya sempat menyedot perhatian besar dari berbagai pihak, termasuk pegiat hak asasi manusia. Amnesty International pada Juni lalu bahkan menyebut bahwa regulator independen menghadapi “ujian yang menentukan” dalam menyikapi investasi ini. Kekhawatiran utama mereka adalah keterlibatan tokoh dengan rekam jejak kontroversial dalam kepemilikan klub sepak bola Inggris.

Alalshikh sendiri bukan sosok tanpa kontroversi. Selain menjabat sebagai ketua General Entertainment Authority Arab Saudi, ia dikenal dekat dengan penguasa de facto Kerajaan, Mohammed bin Salman. Kelompok hak asasi manusia kerap mengkritik perannya dalam praktik yang disebut sportswashing.

Arab Saudi selama ini dituduh menggunakan olahraga untuk memperbaiki citranya di mata dunia. Tuduhan itu muncul untuk mengalihkan perhatian dari catatan hak asasi manusia negara tersebut, termasuk perlakuan terhadap perempuan, penggunaan hukuman mati, dan sikap anti-LGBT. Keterlibatan tokoh-tokoh Saudi dalam klub sepak bola Eropa pun terus menjadi sorotan publik.

Jejak Turki Alalshikh di Dunia Sepak Bola

Alalshikh sebenarnya bukan pendatang baru dalam bisnis kepemilikan klub sepak bola. Ia tercatat pernah memiliki klub asal Mesir, Pyramids, pada periode 2018 hingga 2019. Setelah itu, ia mengalihkan fokusnya ke Eropa dengan mengambil alih klub Spanyol, Almeria.

Namun kepemilikan Alalshikh atas Almeria juga tidak berlangsung lama. Pada Mei lalu, ia menjual klub tersebut kepada kelompok investasi asal Arab Saudi. Kini dengan batalnya kesepakatan di Derby, portofolio kepemilikan klub Alalshikh untuk sementara kosong, meski ia masih punya peran besar di dunia olahraga lain melalui Zuffa.

Apa Dampaknya bagi Derby County?

Kegagalan takeover Derby County batal ini membuat klub harus kembali bertahan dengan struktur kepemilikan yang ada. Clowes Developments, yang selama ini menjadi penopang utama, kembali menjadi tumpuan keberlangsungan klub. Situasi ini sebenarnya bukan hal baru bagi Derby yang sudah terbiasa menghadapi ketidakpastian finansial.

Di atas kertas, mundurnya Alalshikh justru bisa menjadi berkah karena klub terhindar dari kontroversi yang menyertainya. Namun di sisi lain, peluang investasi segar untuk memperkuat skuad ikut menguap. Derby harus segera berbenah karena kompetisi Championship musim ini berjalan tanpa kepastian soal suntikan dana besar.

Adapun bagi IFR, kasus ini menjadi salah satu ujian nyata pertama sejak regulator tersebut beroperasi. Meski prosesnya menuai kritik karena dianggap terlalu lama, IFR menegaskan bahwa kehati-hatian adalah prioritas utama. Dari sudut pandang regulator, menggugurkan calon pemilik yang tidak siap tetap lebih baik daripada membiarkan klub jatuh ke tangan yang salah.

Rencana takeover Derby County batal setelah melalui proses yang panjang dan penuh lika-liku. Alalshikh memilih mundur dengan alasan waktu persiapan yang tidak memadai, sementara klub dan regulator sama-sama menyatakan sikap resmi. Derby County kini kembali fokus pada kompetisi dengan Clowes Developments sebagai penopang utama.

Masa depan kepemilikan Derby memang masih terbuka, tetapi untuk saat ini klub memilih tenang dan tidak lagi mengejar investor baru. Publik pun menunggu langkah berikutnya dari kedua pihak, entah itu pembicaraan ulang antara Alalshikh dan klub atau kemunculan calon pemilik lain. Yang pasti, kasus ini menjadi pelajaran berharga tentang rumitnya proses pengambilalihan klub sepak bola Inggris.

Exit mobile version