Kekalahan Wales dari Denmark dengan skor 0-1 di ajang Nations League langsung memantik kritik tajam dari pelatih kepala Craig Bellamy. Gol penalti Rasmus Hojlund pada menit ke-75 menjadi penentu hasil laga di Cardiff City Stadium, sekaligus menandai kekalahan ketiga Wales dari empat pertandingan yang harus mereka mainkan hanya dalam rentang sepuluh hari.
Bagi Bellamy, persoalannya bukan sekadar taktik atau performa pemain di lapangan. Ia menilai jadwal internasional yang baru—di mana dua jendela pertandingan digabung menjadi satu blok berisi empat laga—memberi beban berlebihan kepada negara dengan kedalaman skuad terbatas seperti Wales. Kritik itu muncul hanya tiga hari setelah timnya menang atas Norwegia, hasil yang gagal mereka lanjutkan saat menjamu Denmark.

Penalti Hojlund dan Kekalahan Wales dari Denmark
Sepanjang laga, Wales sangat jarang terlihat punya peluang mencetak gol. Denmark justru beberapa kali hampir memecah kebuntuan sebelum akhirnya Hojlund mengeksekusi penalti pada menit ke-75, momen yang menjadi titik balik pertandingan. Bellamy pun mengakui bahwa timnya kesulitan membangun permainan seperti yang mereka lakukan saat mengalahkan Norwegia.
“Kamis lalu kami bermain menyerang sehingga kami mampu memperpendek jarak antarpemain. Hari ini kami tidak bisa mengolah bola dengan cukup baik, tidak bisa menaikkan energi cukup tinggi untuk punya pengaruh lebih besar dalam pertandingan,” ujar Bellamy.
Kiper Wales, Danny Ward, sempat tampil apik dengan penyelamatan penting dari Hojlund dan Gustav Isaksen sehingga skor bertahan 0-0 hingga pertengahan babak kedua. Ironisnya, kesalahan sekaligus pelanggaran Ward-lah yang berujung pada hadiah penalti bagi Denmark. Meski begitu, Bellamy menolak menyebut kekalahan ini murni akibat kesalahan kipernya.
“Jelas itu momen yang menentukan, tetapi dia sudah membuat dua penyelamatan luar biasa sebelum itu,” kata Bellamy. “Saya pikir Denmark dengan kekuatan fisiknya mampu menaikkan tempo sedikit demi sedikit. Anda bisa melihat lari mereka sangat mengancam, jadi saya merasa mereka terus mengetuk pintu. Dia tampil luar biasa untuk menjaga skor 0-0 sampai saat itu.”
Jadwal Empat Laga dalam Sepuluh Hari yang Dikeluhkan Bellamy
Kritik Bellamy bertumpu pada perubahan format kalender internasional yang berlaku tahun ini. Sebelumnya, tim nasional memainkan enam pertandingan yang tersebar di tiga jendela—September, Oktober, dan November—dengan masing-masing jendela berisi dua laga. Pada 2025, untuk pertama kalinya jendela September dan Oktober digabung, sehingga setiap tim harus melakoni empat pertandingan dalam satu blok panjang.
Menurut Bellamy, format itu jelas menguntungkan negara-negara besar dan menempatkan negara seperti Wales pada posisi yang tidak seimbang. Ia bahkan mengaku berada di ruangan saat keputusan itu diambil dan menjadi salah satu pihak yang tidak menyetujuinya.
“Secara fisik, saya sepenuhnya setuju dengan mereka yang tidak menyukai jendela baru ini. Ini tidak masuk akal,” tegasnya. “Empat pertandingan di level seperti ini… untuk negara-negara lain, kami tahu siapa mereka, karena saya ada di ruangan ketika mereka semua memilihnya. Saya termasuk yang tidak memilih, sebab kami tahu ini benar-benar merugikan kami.”
Badai Cedera Perparah Beban Skuad Wales
Masalah jadwal padat semakin terasa karena Wales kehilangan banyak pemain penting. Sejumlah nama seperti Karl Darlow, Joe Rodon, Dylan Lawlor, dan Harry Wilson absen sepanjang pemusatan latihan, sementara David Brooks keluar dari skuad setelah kekalahan dari Portugal pada laga pembuka. Kondisi ini membuat Bellamy nyaris tidak punya ruang untuk merotasi tim secara ideal.
- Karl Darlow, Joe Rodon, Dylan Lawlor, dan Harry Wilson absen di seluruh pemusatan latihan.
- David Brooks meninggalkan skuad setelah kekalahan dari Portugal.
- Dan James tidak cukup fit sehingga hanya duduk di bangku cadangan saat melawan Denmark.
- Ben Davies kemungkinan seharusnya diistirahatkan, namun baru ditarik keluar di akhir laga.
Bellamy menjelaskan bahwa satu pemain yang cedera akan kehilangan empat pertandingan sekaligus, bukan dua seperti pada format lama. Menurutnya, skuad yang lebih kecil akan sangat teruji ketika harus menghadapi intensitas sekaligus atletisitas empat laga beruntun.
“Kalau kami punya beberapa pemain cedera—dan kami kehilangan lebih dari satu atau dua—mereka melewatkan empat pertandingan. Kami bisa menangani dua, paham? Lalu skuad benar-benar diuji,” ujarnya. “Intensitas skuad, atletisitasnya, saya pikir jeda empat laga ini dirancang untuk para elite. Mereka bisa berkata, kami bisa jalan, kami bisa menuntaskan laga-laga ini dengan sangat cepat dan mengganti pemain seperti untuk seperti karena jumlah kami cukup. Jadi ini benar-benar membebani banyak dari kami.”
Dampaknya bagi Wales dan Negara dengan Skuad Terbatas
Keluhan Bellamy menyentuh persoalan yang lebih luas daripada satu hasil pertandingan. Negara dengan kolam pemain terbatas tidak punya kemewahan untuk mengganti pemain bintang dengan kualitas setara ketika cedera menyerang. Akibatnya, jadwal yang sama bisa terasa jauh lebih berat bagi Wales dibandingkan tim-tim besar yang memiliki dua atau tiga pemain mumpuni di setiap posisi.
Kritik ini juga memperlihatkan bahwa hasil di lapangan tidak bisa dilepaskan dari konteks kalender kompetisi. Kekalahan Wales dari Denmark terjadi di penghujung rangkaian empat laga dalam sepuluh hari, situasi yang menurut Bellamy menekan fisik dan mental para pemainnya. Ia pun menilai laga kontra Norwegia berjalan lebih baik karena kondisi tim saat itu masih lebih segar.
Di sisi lain, Denmark membuktikan bahwa kekuatan fisik dan kedalaman skuad tetap menjadi pembeda di kompetisi sekelas Nations League. Mereka mampu menaikkan tempo di babak kedua dan memaksa Wales bertahan lebih dalam, sesuatu yang tidak sanggup dibalas tuan rumah.
Posisi Wales di Grup A4 dan Laga Berikutnya
Meski menelan kekalahan, Wales sebenarnya naik ke peringkat ketiga Grup A4 Nations League. Posisi itu mereka dapatkan berkat keunggulan rekor pertemuan langsung dengan Norwegia, setelah Norwegia takluk 2-1 di Portugal pada laga yang berlangsung di hari yang sama.
Agenda berikutnya tidak akan lebih ringan bagi Bellamy dan pasukannya. Bulan depan, Wales bertandang ke Oslo untuk menghadapi Norwegia, lalu menutup kampanye dengan menjamu Portugal tiga hari setelahnya. Dua laga itu akan menjadi ujian sesungguhnya bagi kemampuan Wales mengelola skuad yang tengah dilanda cedera.
Bagaimana Bellamy menyiasati komposisi pemain di dua pertandingan tersebut akan sangat menentukan apakah kritiknya soal jadwal padat hanya menjadi wacana, atau terbukti berpengaruh langsung pada hasil di lapangan.
Kesimpulan
Kekalahan Wales dari Denmark lewat penalti Rasmus Hojlund menegaskan dua hal sekaligus: ketajaman Denmark dalam memanfaatkan momentum, dan kerentanan Wales ketika dihadapkan pada jadwal yang menumpuk. Bellamy tidak menyalahkan pemainnya, melainkan menyoroti format jendela internasional baru yang menurutnya lebih berpihak kepada negara-negara dengan kedalaman skuad besar.
Situasi bertambah rumit karena badai cedera memaksa Wales tampil tanpa sejumlah pemain kunci di hampir seluruh rangkaian laga. Dengan dua pertandingan berat melawan Norwegia dan Portugal menanti bulan depan, Wales harus segera menemukan cara agar beban jadwal yang sama tidak lagi menjadi alasan atas hasil yang mengecewakan.