Dalam rentang waktu yang nyaris bersamaan, dunia sepak bola disuguhi dua wajah yang sangat berbeda dari akhir karier Messi dan Ronaldo di level internasional. Lionel Messi menutup perjalanannya bersama timnas Argentina lewat perpisahan megah di Buenos Aires, mencetak gol di laga terakhirnya melawan Benin di hadapan 85.000 penonton yang memadati Stadion Monumental. Sementara itu, di belahan dunia lain, Cristiano Ronaldo justru merilis pernyataan panjang di media sosial yang menuduh pelatih timnas Portugal, Jorge Jesus, melakukan “pelanggaran kepercayaan total” terhadap dirinya.
Kontras ini terasa istimewa karena kedua nama itu telah lebih dari satu dekade menjadi poros perdebatan terbesar dalam sepak bola modern. Messi pergi dengan senyum, tepuk tangan, dan air mata haru; Ronaldo pergi dengan surat terbuka berisi kekecewaan. BBC Sport menelaah apa yang bisa jadi penanda berakhirnya karier internasional dua pemain terbesar generasinya, sekaligus menunjukkan bahwa cara sebuah legenda mengucapkan selamat tinggal bisa sama pentingnya dengan apa yang ia menangkan.

Perpisahan Megah Messi di Buenos Aires
Laga terakhir Messi bersama La Albiceleste berlangsung dalam suasana yang nyaris sempurna. Stadion Monumental terisi penuh dengan 85.000 penonton yang datang khusus untuk memberi penghormatan terakhir kepada kapten mereka. Messi menutup penampilan terakhirnya dengan sebuah gol, menjadikan malam itu perpisahan yang lengkap secara emosional maupun statistik.
Usai pertandingan, pemain berusia 39 tahun itu menyampaikan pidato selama hampir sepuluh menit kepada para penggemar yang memujanya. Beberapa rekan setimnya terlihat menitikkan air mata ketika Messi mengaku tidak ingin meninggalkan lapangan. “Ada begitu banyak emosi yang berkecamuk dalam diri saya saat ini,” ujarnya. “Saya pasti melupakan banyak hal yang ingin saya sampaikan karena ini momen yang sangat sulit bagi saya. Orang pertama yang muncul di pikiran saya adalah ayah saya.” Ia menutup dengan kalimat, “Saya pergi dengan rasa syukur, bangga, dan tenang. Terima kasih untuk semuanya.”
Keputusan pensiun dari timnas sebenarnya sudah diumumkan Messi pada Agustus, setelah Argentina finis sebagai runner-up di Piala Dunia dan menyusul kepergian ayahnya, Jorge. Ia meninggalkan tim nasional sebagai pemegang rekor penampilan sekaligus pencetak gol terbanyak Argentina, dengan koleksi satu trofi Piala Dunia dan dua Copa America. Karier klubnya sendiri belum berakhir, karena ia masih memperkuat Inter Miami di Major League Soccer.
Kisruh Ronaldo: Kronologi dan Isi Pernyataan 2.000 Kata
Ketegangan seputar Ronaldo di timnas Portugal sebenarnya sudah lama mengendap. Banyak penggemar mengkritik mantan pelatih Portugal, Roberto Martinez, karena bersikeras menurunkan Ronaldo sebagai starter di Piala Dunia musim panas lalu. Pada usia 41 tahun, Ronaldo bukan lagi pemain dinamis seperti dulu, dan banyak pihak menilai kehadirannya lebih membebani tim ketimbang membantu.
Persoalan memuncak pada Minggu, ketika Ronaldo tidak dimainkan sama sekali dalam kemenangan Portugal atas Norwegia di ajang Nations League. Setelah mengetahui bahwa dirinya juga tidak akan menjadi starter melawan Denmark pada November, ia pun meninggalkan pemusatan latihan timnas. Keputusan itu menjadi pemicu rangkaian pernyataan yang menyita perhatian publik sepak bola Portugal.
Pada Selasa, Ronaldo merilis pernyataan hampir 2.000 kata melalui Instagram. Dalam tulisan itu ia menyebut Jesus dua kali “mengingkari janjinya” dan menuduh sang pelatih melakukan “pelanggaran kepercayaan total”, karena tidak memainkannya melawan Norwegia padahal sebelumnya dijanjikan tampil, lalu berbalik dari kesepakatan untuk menyampaikan versi peristiwa yang telah disetujui kepada media. Ronaldo juga meminta maaf kepada para penggemar dan rekan setimnya karena meninggalkan kamp, serta menegaskan bahwa konsekuensi dari tindakannya harus “dinilai dan dihukum”.
Meski demikian, penyerang Al-Nassr itu membantah anggapan bahwa laga melawan Denmark akan menjadi penampilan terakhirnya untuk Portugal. “Kami akan punya satu atau lebih pertandingan perpisahan, akan ada waktu untuk itu,” tulisnya dalam pernyataan tersebut. Manajer Jorge Jesus sendiri menyatakan pada Minggu bahwa pintu timnas tetap terbuka bila Ronaldo ingin kembali, tetapi banyak pihak menilai kerusakan hubungan sudah terlalu parah. Jesus bahkan dilaporkan belum membaca pernyataan itu karena sedang menyaksikan pertandingan tim Portugal U21.
Dampak Akhir Karier Messi dan Ronaldo bagi Timnas dan Penggemar
Di Portugal, opini publik ternyata tidak bulat membela Ronaldo. Jurnalis sepak bola Portugal, Jose Delgado, mengungkapkan hasil polling yang menunjukkan hanya 15 persen warga Portugal berada di pihak Ronaldo dalam polemik ini. Berbicara kepada BBC Radio 5 Live, Delgado menilai jalan kembali sudah tertutup. “Saya tidak berpikir ada jalan kembali. Dalam pernyataannya, Ronaldo bilang akan kembali ke timnas, tapi di saat yang sama ia menyebut Jesus pembohong tiga kali,” katanya.
Delgado menambahkan bahwa publik Portugal tetap mengakui jasa besar Ronaldo, namun merasa waktunya sudah habis dan sang pemain seharusnya bisa memahami hal itu. Menurutnya, persoalan utamanya justru terletak pada Ronaldo yang ingin terus bermain seperti pemain berusia 24 tahun, bukan 41 tahun. Ia juga menegaskan bahwa apa pun yang terjadi selanjutnya, hubungan Ronaldo dengan timnas Portugal tidak akan pernah sama lagi.
Ia tetap mengingatkan bahwa kontribusi Ronaldo bagi sepak bola Portugal bersifat unik dan luar biasa, sehingga sudah sepantasnya ia mendapat penghormatan atas pengabdiannya. “Tapi di usia 41 tahun, ia tidak punya tempat di starting XI terbaik Portugal,” tegas Delgado. Di sisi lain, reaksi di jalanan menunjukkan perpecahan yang nyata. Beberapa papan reklame di Lisbon memuji Ronaldo dan mengkritik Jesus, dengan tulisan berbahasa Portugal yang intinya menyampaikan terima kasih kepada Ronaldo dan menyebut Jesus tidak mampu menjalankan tugasnya karena kurang peka serta ego yang terlalu besar. Pada laga melawan Denmark, sebagian penggemar mengenakan kaus bertuliskan ‘Love you Jesus’, sementara sebagian lain tampil penuh dengan atribut Ronaldo.
Rekam Jejak Angka: 146 Gol Ronaldo dan Rekor Messi
Dari sisi statistik, keduanya meninggalkan warisan yang sulit ditandingi. Ronaldo telah mencetak 146 gol dalam 234 penampilan bersama Portugal, dua angka yang sama-sama merupakan rekor dunia. Selama karier internasionalnya, ia membantu Portugal menjuarai Euro 2016 dan dua kali mengangkat trofi Nations League.
Ronaldo saat ini tercatat sudah mengoleksi 979 gol untuk klub dan negaranya, dan ia tengah memburu angka 1.000 yang selama ini menjadi target pribadinya. Karena ambisi itu, kecil kemungkinan ia memilih pensiun dari timnas secara sukarela sebelum mencapai tonggak tersebut. Kondisi inilah yang membuat situasinya rumit: di satu sisi ia belum siap mengakhiri karier internasionalnya, di sisi lain ia berada di tengah konflik terbuka dengan pelatihnya sendiri.
Di kubu Messi, rekam jejaknya berbicara dengan cara yang berbeda. Peraih delapan Ballon d’Or itu meninggalkan Argentina dengan status pemegang rekor penampilan dan pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah La Albiceleste. Ia juga menjadi bagian dari skuad yang mengakhiri dahaga gelar besar Argentina melalui satu gelar Piala Dunia dan dua Copa America. Perbandingan ini menunjukkan bahwa dua legenda bisa menutup babak karier internasionalnya dengan suasana yang bertolak belakang sepenuhnya.
Apa yang Menanti Messi dan Ronaldo Setelah Lapangan
Untuk Messi, masa depan yang sudah mulai terbentuk bukan lagi soal pertandingan. Selain tetap bermain untuk Inter Miami, ia tampak ingin masuk ke dunia kepemilikan klub dan telah mengambil langkah ke arah itu. Ia sudah memiliki dua klub di Spanyol, yakni UE Cornella yang berlaga di kasta kelima dan CD Eldense di kasta kedua. Ia juga menjadi mitra dalam jaringan restoran El Club de la Milanesa yang berencana membuka lima cabang di Katalonia.
Di luar sepak bola, Messi memiliki kesepakatan seumur hidup dengan Adidas serta koleksi bersama merek peralatan minum Stanley, sembari menanamkan investasi di sektor properti dan perhotelan. Kombinasi ini memperlihatkan bahwa transisi dari pemain menjadi pengusaha olahraga sudah dirancang jauh sebelum ia mengucapkan selamat tinggal kepada timnas. Aktivitas bisnisnya bahkan menjangkau wilayah yang tidak berkaitan langsung dengan pertandingan.
Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, menegaskan bahwa pintu timnas tetap terbuka bila Messi suatu saat ingin melanjutkan, dan tidak ada rasa malu untuk berubah pikiran. Namun menurut pakar sepak bola Guillem Balague, babak itu tampaknya sudah benar-benar ditutup. Ketika orang-orang di sekitar Messi ditanya soal apa yang akan ia lakukan setelah ini, mereka hanya tersenyum, karena Messi memang tidak pernah merencanakan sesuatu melampaui pertandingan berikutnya. Meski begitu, Balague menilai ia akan tetap bertahan di dunia sepak bola karena akan sulit hidup tanpanya, sementara kepentingan bisnisnya telah merambah jauh melampaui lapangan.
Dua malam yang berjarak ribuan kilometer itu menunjukkan dua cara berbeda bagi seorang legenda untuk mengakhiri perjalanannya bersama tim nasional. Messi memilih mundur saat semua orang masih ingin ia bertahan, dan pergi dengan rasa tenang serta penghormatan penuh. Ronaldo belum bersedia melepas seragam Portugal, namun ia melakukannya di tengah konflik terbuka dengan pelatih, sorotan negatif sebagian publik, dan pertanyaan besar soal apakah hubungannya bisa dipulihkan.
Terlepas dari perbedaan itu, keduanya tetap meninggalkan warisan yang nyaris mustahil diulang: rekor demi rekor, trofi demi trofi, serta perdebatan panjang soal siapa yang terbaik di antara mereka. Yang belum jelas sekarang adalah bagaimana kisah Ronaldo akan ditutup, karena “satu atau lebih pertandingan perpisahan” yang ia janjikan masih menunggu, sementara Messi sudah menutup pintunya dengan cara paling ia inginkan.