Ander Herrera Main Gratis demi Mimpi Terakhir

Ander Herrera main gratis untuk Real Zaragoza setelah memutuskan kembali ke klub masa kecilnya dengan status bebas transfer dari Boca Juniors. Gelandang berusia 37 tahun itu menyebut kepulangan ini sebagai mimpi terakhir yang ingin ia wujudkan sebelum gantung sepatu. “Ini mungkin mimpi terakhir yang ingin saya wujudkan,” ujarnya kepada BBC Sport.

Pertandingan kompetitif terakhir Herrera berlangsung di hadapan publik La Bombonera yang bergemuruh bersama Boca Juniors di Copa Libertadores. Kini, laga berikutnya akan dijalaninya di divisi tiga Spanyol di depan sekitar 6.500 suporter melawan tim regional, Gimnastic de Tarragona. Meski panggungnya jauh berbeda, Herrera menegaskan bahwa kepulangan ini sama pentingnya dengan setiap transfer besar dalam kariernya.

Ander Herrera

Ander Herrera Main Gratis demi Membantu Zaragoza

Keputusan Ander Herrera main gratis bukan sekadar simbolisme. Gelandang asal Bilbao itu secara sadar mendonasikan seluruh gajinya kepada yayasan Real Zaragoza agar klub bisa bernapas lebih lega di tengah keterpurukan. “Saya tidak butuh kontrak. Saya punya karier yang sangat sukses dan saya sudah mengelola keuangan saya dengan baik,” ujarnya.

Herrera menjelaskan bahwa ia ingin memberikan hadiah ini untuk dirinya sendiri: mengenakan seragam Zaragoza tanpa dibayar demi membantu klub, tim, dan kotanya. “Saya tidak memikirkan uang atau kontrak. Saya merasa terhormat bisa melakukan itu,” katanya. Ia menambahkan bahwa pulang ke tempat ia dibesarkan adalah cara terbaik untuk mengakhiri karier—sesuatu yang dalam budaya Spanyol disebut “menutup lingkaran”.

Perjalanan Karier Ander Herrera Sebelum Pulang Kampung

Herrera meninggalkan Zaragoza 15 tahun lalu dan menjalani petualangan panjang di sejumlah klub besar:

  • Dua periode di Athletic Club
  • Manchester United
  • Paris St-Germain
  • Boca Juniors

Selama berkarier di papan atas Eropa dan Amerika Selatan, ia mengoleksi gelar Europa League, FA Cup, dan sejumlah trofi liga. Ia juga pernah bekerja dengan Jose Mourinho, Thomas Tuchel, dan Marcelo Bielsa, serta berbagi ruang ganti dengan Lionel Messi, Neymar, dan Wayne Rooney. Pengalaman segudang itu kini dibawanya pulang ke Zaragoza yang sedang berada di titik terendah.

Meski puncak performanya mungkin sudah lewat, Herrera tetap punya target jangka pendek yang jelas: membantu membangun kembali klub kebanggaannya. Ia mengaku masih memiliki semangat, gairah, dan kecintaan pada sepak bola yang belum padam. Semua energi itu ingin ia habiskan untuk kebangkitan Zaragoza, bukan untuk mengejar kejayaan pribadi.

Real Zaragoza: Dari Piala Winners ke Jurang Divisi Tiga

Real Zaragoza bukan klub sembarangan. Pada 1995, mereka mengalahkan Arsenal di final Piala Winners—sebuah pencapaian yang kini terasa seperti kenangan dari masa lalu yang berbeda. Namun setelah didegradasi dari La Liga pada 2012-13, dua tahun setelah Herrera pindah ke Bilbao, klub ini jatuh perlahan. Selama 13 musim mereka berkutat di divisi dua dengan peringkat yang terus menurun, hingga akhirnya terjerembap ke kasta ketiga sepak bola Spanyol yang terkenal berat.

Saat Herrera pergi pada 2011, Zaragoza sebenarnya sudah berada dalam masalah finansial. Kala itu ia sudah tahu bahwa suatu hari nanti ia ingin kembali. Kini, tanpa tahu pasti situasi yang akan dihadapinya, ia justru pulang di masa paling sulit klub—dan memilih menyumbangkan gajinya untuk yayasan Zaragoza.

Herrera mengaku sedih menyaksikan kemerosotan klubnya dari kejauhan. “Real Zaragoza seharusnya berada di Eropa, bertarung memperebutkan trofi, melawan klub-klub terbesar di Spanyol dan Eropa,” katanya. Namun ia tak mau larut dalam nostalgia: sejak hari pertama datang, ia enggan terus membahas masa lalu yang kelam. Menurutnya, sudah terlalu banyak pihak yang menangisi kesalahan dan memikirkan hal-hal negatif. “Berhentilah menangisi apa yang terjadi di masa lalu. Mari bangun masa depan. Mari datang setiap hari ke latihan dengan senyuman,” tegasnya.

Dampak Kepulangan Herrera bagi Zaragoza

Kembalinya Herrera membawa dampak emosional yang besar bagi Zaragoza. Ia bukan sekadar pemain yang pernah menimba ilmu di akademi klub; ia adalah penggemar berat sebelum menembus tim utama. Idola-idolanya berasal dari klub ini, dan inspirasi terbesarnya adalah sang ayah, Pedro, yang pernah menjadi pemain sebelum menjabat general manager. Kenangan sepak bola pertamanya pun tercipta di era kejayaan Zaragoza, termasuk saat menonton tim kesayangannya menjuarai Piala Winners 1995 dari rumah—di Parc des Princes, stadion PSG yang kelak ia bela selama tiga tahun.

“Sekarang Anda bisa melihat perbedaan antara Arsenal dan Real Zaragoza, tetapi kami dulu bertarung melawan raksasa-raksasa itu,” ujar Herrera. Dengan kualitas, pengalaman, dan semangat yang ia bawa, ia berharap bisa membantu Zaragoza kembali ke tempat yang menurutnya memang milik mereka. Ia ingin menjadi bagian dari kebangkitan, bukan sekadar nostalgia semata.

Pesan Herrera untuk Pemain Muda di Era Media Sosial

Herrera juga punya perhatian besar terhadap perkembangan pemain muda. Ia mengaku senang bekerja dengan mereka dan melihat proses perkembangannya dari dekat. Ia ingin membantu generasi berikutnya menghindari kesalahan yang mungkin pernah ia buat,