Sunderland akan menjalani laga bergengsi di San Siro menghadapi AC Milan pada pertandingan Europa League 10 Desember mendatang. Namun menjelang lawatan ke Italia itu, perhatian klub berjuluk Black Cats tersebut kemungkinan besar justru lebih tersita pada pertandingan Liga Premier melawan Nottingham Forest tiga hari setelahnya. Duel di kandang sendiri itu dinilai bisa jauh lebih menentukan nasib mereka ketimbang bertemu raksasa Serie A.
Status Sunderland memang tengah berada dalam sebuah paradoks. Di pentas Eropa, mereka tampil mengesankan dan bersaing di papan atas, tetapi di kompetisi domestik mereka justru terpuruk di dasar klasemen. Kekalahan 3-1 dari Coventry City pada Sabtu lalu menegaskan posisi itu setelah sembilan pertandingan berjalan. Situasi ini menjadi kontras tajam dengan musim lalu, ketika mereka tampil mengejutkan sebagai tim promosi yang mampu berbicara banyak.

Jadwal Berat Sebelum Terbang ke Milan
Sebelum berangkat ke Milan, Sunderland harus melewati rangkaian pertandingan yang sangat menantang di Liga Premier. Mereka akan berhadapan dengan Chelsea di kandang, lalu melawat ke Aston Villa, menjamu Tottenham, bertandang ke Liverpool, dan menutup rangkaian itu dengan duel melawan rival lokal Newcastle di kandang sendiri. Di tengah jadwal tersebut, mereka juga masih harus menjalani laga kandang Europa League melawan Dinamo Zagreb dari Kroasia dan Jagiellonia Bialystok dari Polandia.
Rangkaian itu menjadi ujian berat bagi skuad asuhan Regis le Bris. Jika mereka gagal mencuri poin dari laga-laga tersebut sementara tim lain di papan bawah terus mengumpulkan angka, Sunderland bisa terpuruk jauh sebelum mewujudkan mimpi bermain di San Siro. Kondisi inilah yang membuat laga melawan Nottingham Forest, sesama tim yang kesulitan di awal musim, berpotensi lebih penting daripada pertandingan melawan AC Milan.
Fakta ini memperlihatkan ironi yang pahit bagi Sunderland. Kesempatan bertemu salah satu klub paling bergengsi di Eropa justru datang di tengah krisis performa domestik yang mengancam status mereka di Liga Premier. Pilihan prioritas pun menjadi dilema: memaksimalkan laga Eropa atau menyelamatkan musim di kompetisi domestik.
Krisis di Liga Premier: Kemenangan Terakhir Sunderland Sejak Agustus
Kemenangan Liga Premier terakhir Sunderland terjadi saat mengalahkan Fulham pada 30 Agustus, hanya dua hari setelah undian fase liga Europa League dan lawatan ke Milan dipastikan. Ketika merayakan kemenangan itu dan mulai mencari tiket serta hotel untuk petualangan Eropa, para penggemar tentu tidak membayangkan tim kesayangan mereka akan memasuki November tanpa kemenangan lagi di liga. Harapan yang membubung tinggi saat itu kini berubah menjadi kekhawatiran.
Sejak laga melawan Fulham tersebut, termasuk kekalahan di pekan pembuka melawan Ipswich, Sunderland telah menelan enam kekalahan dan hanya meraih dua hasil imbang. Kapten Granit Xhaka pun tidak menyembunyikan kekecewaannya setelah kekalahan dari Coventry. Menurutnya, tim tidak menjalankan hal-hal yang telah dibicarakan dan dilatih, dengan terlalu banyak kesalahan yang membuat peluang menang menjadi hilang.
Rentetan hasil buruk ini bukan sekadar soal keberuntungan. Sunderland tampak kehilangan identitas permainan yang membuat mereka mengejutkan musim lalu, baik dalam hal ketenangan menguasai bola maupun ketajaman di depan gawang. Tekanan sebagai tim yang harus membuktikan diri di dua kompetisi sekaligus menambah beban tersendiri bagi para pemain.
Kontras Mencolok: Perkasa di Eropa, Rapuh di Domestik
Di pentas Eropa, Sunderland justru tampil menjanjikan. Mereka menempati posisi kesembilan klasemen fase liga Europa League, dan hanya selisih gol yang membuat mereka belum masuk delapan besar yang berhak lolos langsung ke babak 16 besar. Dari tiga pertandingan, mereka meraih dua kemenangan dan satu hasil imbang.
Di Piala Carabao, kemenangan 3-2 atas Brentford pada tengah pekan juga mengantar mereka ke perempat final melawan Crystal Palace, sesama tim yang tengah berjuang di papan bawah liga. Namun keberhasilan di kompetisi lain ini ternyata berbuntut mahal. Dari tiga laga liga yang dimainkan setelah pertandingan Eropa musim ini, Sunderland hanya mengumpulkan satu poin, dan kekalahan dari Coventry datang tepat setelah kemenangan di ajang Piala Carabao.
Pelatih Regis le Bris menyadari bahwa para pemainnya kini menghadapi realitas baru sebagai klub yang bermain di Eropa. Ia menilai jadwal padat musim ini sangat menuntut, dan mengingatkan bahwa banyak klub pada musim lalu mengalami situasi serupa di tahun pertama mereka berlaga di Eropa. Le Bris menyebut bahwa secara rata-rata tim akan kehilangan sekitar 10 poin dalam kondisi seperti ini, meski ia menegaskan hal itu bukan alasan untuk berpuas diri dan timnya tetap harus bermain lebih baik.
Pertahanan Bocor dan Ketajaman yang Menurun
Perubahan paling mencolok pada Sunderland musim ini terletak pada rapuhnya lini belakang. Musim lalu, mereka memiliki pertahanan terbaik keempat di liga, dengan hanya juara Arsenal, Manchester City, dan Brighton yang kebobolan lebih sedikit. Kini, hanya Ipswich Town dan Crystal Palace yang kebobolan lebih banyak dari Sunderland.
Setelah sembilan pertandingan musim lalu, Sunderland sudah meraih lima kemenangan, dua imbang, dan dua kekalahan dengan hanya kebobolan tujuh gol. Musim ini, gawang mereka sudah bobol 17 kali dalam jumlah pertandingan yang sama, padahal musim lalu angka itu baru tercapai setelah 15 laga. Sebaliknya, di Eropa mereka hanya kebobolan dua gol dalam tiga pertandingan.
Sebanyak tujuh kesalahan yang berujung pada gol menjadi catatan tersendiri. Dua gol Coventry pada Sabtu lalu lahir dari kegagalan mengantisipasi umpan silang dan kehilangan bola Luke O’Nien dari Taiwo Awoniyi dalam proses terciptanya gol kedua. Le Bris menyebut hasil itu sebagai ringkasan dari naik-turunnya performa musim ini, di mana tim bisa bermain baik dan menciptakan peluang, tetapi juga membuat banyak kesalahan tanpa tekanan lawan.
Masalah lain adalah ketajaman di depan gawang yang mulai menipis. Musim lalu, hanya Burnley dan Wolves yang memiliki selisih xG lebih rendah dari Sunderland, dan hanya tiga tim yang mencetak lebih sedikit dari 42 gol mereka. Musim ini, mereka baru mencetak tujuh gol dalam sembilan laga, dan hanya Nottingham Forest yang mencetak lebih sedikit dengan enam gol. Absennya bek Dan Ballard karena cedera hamstring sejak jeda internasional September juga ikut memperlemah lini belakang.
Konteks Lebih Luas dan Harapan di Tengah Tekanan
Jika ada sisi positif yang bisa dipetik, Sunderland sudah menghadapi lawan-lawan berat seperti juara Arsenal, penantang gelar Manchester City, dan Brighton yang tengah dalam performa apik. Mereka juga sempat mencuri hasil imbang melawan Brentford dan Leeds. Namun di posisi dasar klasemen, argumen-argumen semacam ini cenderung hanya menjadi penghibur, bukan solusi.
Mimpi untuk kembali lolos ke kompetisi Eropa musim depan pun terasa semakin jauh. Situasi ini menjadi pengingat bahwa bertahan di Liga Premier sambil bersaing di Eropa pada musim pertama adalah kombinasi yang sangat sulit bagi klub promosi. Banyak klub sebelumnya menghadapi dilema serupa, dan solusinya hampir selalu menuntut kedalaman skuad serta manajemen rotasi yang matang.
Xhaka tetap menekankan pentingnya sikap positif. Ia mengakui bahwa Sunderland kini berada di dasar klasemen, tetapi menegaskan bahwa dalam sepak bola sikap positif dan keberanian untuk bangkit dari kesalahan tetap dibutuhkan. Menurutnya, situasi sulit ini justru bisa menjadi momen untuk menunjukkan karakter dan keinginan bersama agar bisa keluar dari jurang degradasi.
Perjalanan ke San Siro memang akan menjadi momen bersejarah bagi Sunderland, tetapi kegemilangan di Eropa tidak akan berarti banyak jika status mereka di Liga Premier justru terancam. Rangkaian laga berat menanti, mulai dari Nottingham Forest, Chelsea, hingga Newcastle, dan setiap poin akan sangat berarti untuk memperbaiki posisi di klasemen.
Selama masalah pertahanan belum teratasi dan ketajaman belum kembali, paradoks Sunderland akan terus menjadi sorotan. Laga-laga berikutnya bukan sekadar soal gengsi bermain di panggung Eropa, melainkan soal apakah mereka mampu bertahan di kompetisi paling bergengsi di Inggris.