Kisah Cristian Volpato: Pindah Kewarganegaraan Demi Mimpi Piala Dunia
Cristian Volpato adalah bukti nyata bagaimana sepak bola bisa menyatukan masa lalu dan masa depan. Pemain sayap berusia 22 tahun ini memutuskan untuk membela Timnas Australia (Socceroos) menjelang Piala Dunia 2022, meskipun sebelumnya sempat membela tim junior Italia. Namanya mulai dikenal luas setelah tampil gemilang bersama Sassuolo di Serie A, dan kini ia menjadi bagian penting dari skuad asuhan Tony Popovic.
Namun, yang membuat kisah Volpato unik adalah hubungannya dengan dua tokoh kunci dalam sejarah sepak bola Australia: Francesco Totti dan Fabio Grosso. Keduanya adalah aktor utama di balik kekalahan dramatis Socceroos dari Italia pada Piala Dunia 2006 — sebuah pertandingan yang masih membekas di hati penggemar sepak bola Australia.

Dari Penalti Kontroversial 2006 hingga Karier Volpato
Pada Piala Dunia 2006, Australia nyaris mencatat sejarah dengan lolos ke babak perempat final untuk pertama kalinya. Namun, di menit-menit akhir babak 16 besar, Fabio Grosso jatuh di kotak penalti dan wasit menunjuk titik putih. Francesco Totti yang maju sebagai eksekutor sukses menaklukkan kiper Australia, membuat Italia melaju dan akhirnya menjadi juara dunia.
Ironisnya, Grosso kemudian menjadi pelatih Volpato di Sassuolo, sementara Totti menjadi agen pertamanya di awal karier. Volpato mengaku sudah menonton rekaman pertandingan itu “seperti seratus kali” dan masih sulit percaya dengan kebetulan ini. “Agen saya dulu adalah Totti, yang mencetak gol penalti itu. Pelatih saya sekarang adalah Grosso, yang mendapat penalti itu. Gila, bukan?” ujarnya dalam wawancara.
Pelajaran dari Kekalahan 2006 untuk Socceroos Masa Kini
Bagi banyak penggemar Australia, keputusan wasit pada laga 2006 dianggap sebagai tragedi. Namun Volpato melihat sisi positif. “Detail kecil bisa mengubah permainan,” katanya. “Kami harus memanfaatkan pelajaran itu — detail kecil bisa membuat perbedaan besar.” Filosofi ini ia bawa saat Socceroos bersiap menghadapi Mesir di Dallas pada akhir pekan ini, masih memburu kemenangan pertama di babak gugur Piala Dunia sejak 2006.
Perjalanan Panjang Menuju Seragam Kuning-Hijau
Keputusan Volpato membela Australia tidak terjadi dalam semalam. Ia sudah menjalin komunikasi dengan staf pelatih Socceroos selama bertahun-tahun. Namun momen “klik” terjadi pada akhir Mei 2023, setelah pertandingan klubnya melawan Parma — tempat bek Australia Alessandro Circati bermain. “Ada yang mengklik di hati saya. Saya merasa: ‘Sudah, ambil keputusan. Saya yakin di sinilah tempat saya,'” kenang Volpato.
Ia tidak ingin setengah-setengah. Jika memilih Australia, ia harus benar-benar yakin. Keputusan itu datang dengan tantangan: paspor Australianya sudah kedaluwarsa. Ia harus terbang pulang ke Sydney sehari sebelum turnamen untuk mengurus perpanjangan darurat. “Untungnya petugas imigrasi membantu saya dengan cepat. Saya sangat berterima kasih,” ujarnya.
Akar Australia yang Kuat, Meski Sempat Ditolak
Volpato besar di Sydney, namun di usia 16 tahun ia ditolak oleh dua akademi sepak bola Australia. “Saya diberi tahu dari kedua akademi bahwa saya tidak cukup baik,” katanya. Saat itu ia pulang dengan menangis di mobil bersama ayahnya. Sang ayah hanya berkata, “Jangan khawatir, kita akan ke Italia dan coba peruntungan di sana.”
Ibunya bahkan menjual toko untuk pindah ke Italia bersamanya. Usaha itu membuahkan hasil: Volpato lolos seleksi akademi AS Roma, salah satu klub raksasa Serie A. “Berkat Italia saya mendapat kesempatan kedua. Dari sana saya juga dipanggil timnas Italia junior. Saya merasa berutang budi pada Italia,” akunya.
Dari Troll Online hingga Nyanyian ‘One of Our Own’
Sebelum resmi membela Australia, Volpato sempat menjadi sasaran ejekan warganet yang menganggapnya tidak setia pada negara tempat ia dibesarkan. Namun ia menghadapinya dengan tenang. “Saya manusia biasa, kecanduan HP seperti 90% orang lain. Akan selalu ada yang bilang baik dan buruk. Sebagai pemain sepak bola, kita harus tangguh — kadang kritik bisa jadi bahan bakar motivasi,” ujarnya.
Sekarang, suporter Socceroos memiliki nyanyian khusus untuknya: “One of our own” (Salah satu dari kita). Video nyanyian itu dikirimkan keluarganya, dan menjadi penegasan bahwa keputusannya tepat. “Saya merasa bisa menjadi diri sendiri di sini. Saya merasa di sinilah tempat saya menampilkan kemampuan terbaik,” pungkasnya.
Masa Depan Volpato di Skuad Socceroos
Penampilan perdananya sebagai starter di Piala Dunia terjadi saat melawan Paraguay, di mana ia tampil berbahaya di sisi kanan bersama Jordy Bos. Pelatih Tony Popovic mempercayainya sebagai bagian dari rencana jangka panjang. Dengan bakat dan tekad yang dimiliki, Cristian Volpato bisa menjadi salah satu pilar penting bagi Australia dalam misi merebut kemenangan perdana di babak gugur Piala Dunia.
Kisahnya adalah pengingat bahwa jalan menuju mimpi tidak selalu lurus. Terkadang, penolakan dan kegagalan justru membawa kita ke tempat yang tepat — termasuk pulang ke rumah, meski harus melewati jalan memutar yang panjang.