Inggris Diunggulkan, Tapi Taktik DR Kongo Bisa Jadi Bumerang
Timnas Inggris diprediksi mudah menang atas Republik Demokratik Kongo (DRC) di babak 16 besar Piala Dunia U-20. Opta bahkan memberi peluang 73,9% untuk kemenangan Inggris dalam waktu normal. Namun, siapa sangka taktik DR Kongo yang diterapkan pelatih Sébastien Desabre bisa menyulitkan skuad asuhan Thomas Tuchel? Jangan terkecoh dengan angka-angka statistik — permainan sesungguhnya mungkin jauh lebih ketat.
Strategi Berubah Drastis: Dari Empat Bek Jadi Lima Bek
Sébastien Desabre punya pendekatan berbeda saat menghadapi tim kuat. Di babak kualifikasi, DRC konsisten menggunakan formasi empat bek dalam 12 dari 13 pertandingan. Bahkan dalam laga uji coba melawan Chile, mereka masih setia dengan back four.

Namun, taktik DR Kongo berubah total saat turnamen dimulai. Desabre beralih ke formasi 5-3-2 saat uji coba melawan Denmark, dan mempertahankannya saat melawan Portugal dan Kolombia di fase grup. Hasilnya? Tim peringkat 65 dunia ini hanya kebobolan dua gol dari tiga laga kontra tim-tim yang berada di peringkat 6, 17, dan 19 dunia.
Bukan Sekadar Keberuntungan
Pencapaian itu bukan karena hoki semata. Data Opta menunjukkan Denmark hanya menciptakan peluang dengan total expected goals (xG) 0,74, Portugal 0,65, dan Kolombia 0,98. Angka-angka itu sangat rendah, membuktikan bahwa taktik DR Kongo bekerja efektif mematikan serangan lawan. Mereka memaksa lawan melepaskan tembakan jarak jauh dengan probabilitas kecil ketika serangan mulai membahayakan.
Pertahanan Rapat: Lawan Susah Mendekat ke Gawang
Kunci dari taktik DR Kongo adalah menjaga lawan tetap jauh dari kotak penalti. Rata-rata non-penalti shot lawan di fase grup hanya bernilai 0,06 xG — jauh di bawah rata-rata turnamen yang mencapai 0,10. Hanya pertahanan Spanyol yang lebih baik dalam hal ini, tapi mereka juga menguasai bola jauh lebih dominan.
Yang lebih mengejutkan: DRC hanya kebobolan empat tembakan lebih banyak daripada Inggris di area penalti lawan selama fase grup. Padahal, lawan yang mereka hadapi jauh lebih kuat. Inilah bukti nyata efektivitas taktik DR Kongo dalam menekan ruang dan menutup celah.
Kapten Mbemba dan Lini Belakang yang Disiplin
Chancel Mbemba memimpin barisan pertahanan yang sangat terorganisir. Mereka jarang melakukan kesalahan sendiri. Buktinya, DRC berhasil menjebak offside lawan sebanyak 11 kali — terbanyak ketiga di fase grup. Selain itu, menurut catatan Opta, mereka hanya melakukan satu kesalahan yang langsung berujung pada tembakan lawan, dua kali lebih sedikit dari Inggris.
Kedisiplinan seperti ini membuat taktik DR Kongo semakin sulit ditembus. Lawan harus bekerja ekstra keras untuk menciptakan peluang bersih.
Pelajaran dari Laga Ghana: Set Piece Bukan Jaminan
Inggris dan DRC belum pernah bertemu sebelumnya. Tapi Thomas Tuchel sudah punya gambaran setelah hasil imbang 0-0 melawan Ghana. Saat itu, Inggris gagal mencetak gol dari situasi bola mati — satu-satunya laga fase grup tanpa gol dari set piece. Tuchel mungkin berpikir dead-ball situation bisa jadi solusi menghadapi blok rendah.
Namun, taktik DR Kongo justru unggul dalam hal ini. DRC menempati peringkat sembilan terendah dalam hal kebobolan xG dari set piece di antara 48 tim fase grup. Mereka juga peringkat enam terendah untuk kebobolan dari tembakan non-penalti. Artinya, set piece bukan celah yang mudah untuk dieksploitasi.
Kelebihan Inggris: Dribel di Sepertiga Akhir
Meski pertahanan DRC sangat rapat, Inggris punya satu senjata yang mulai tajam: dribel di area lawan. Data menunjukkan progresi Inggris dalam hal ini terus meningkat sepanjang turnamen. Melawan Kroasia mereka melakukan empat take-on di area lawan, lalu enam saat melawan Ghana, dan tujuh di laga terakhir. Salah satunya dari Jude Bellingham yang berbuah tendangan pojok dan berujung gol pembuka ke gawang Panama.
Kemampuan individu untuk melewati lawan bisa menjadi kunci membongkar taktik DR Kongo yang rapat.
Masalah Besar: Kreasi Peluang vs Ketajaman
Tugas Inggris sebenarnya sederhana: harus lebih klinis. Tidak ada tim yang lebih banyak melewatkan big chance (peluang emas) di fase grup selain Inggris — total sembilan kali. Hanya Norwegia (14) yang memiliki lebih banyak total peluang emas daripada Inggris (13).
Namun, DRC hanya memberi lawan dua big chance sejauh ini. Jadi masalah pertama yang harus dipecahkan Inggris bukanlah penyelesaian akhir, melainkan taktik DR Kongo yang sangat efektif membatasi peluang. Menciptakan peluang berkualitas adalah tantangan yang lebih besar daripada sekadar mencetak gol.
Kesimpulan: Jangan Remehkan Tim Kuda Hitam
Statistik Opta memang memihak Inggris, tapi sepak bola tidak selalu hitam putih. Taktik DR Kongo yang disiplin, rapat, dan terorganisir telah terbukti merepotkan tim-tim besar. Inggris harus bermain cerdas, sabar, dan memanfaatkan setiap celah kecil jika ingin lolos. Jika tidak, kejutan bisa saja terjadi di laga ini.