The Friedkin Group (TFG) dikabarkan sedang menjajaki opsi Everton dijual, kurang dari dua tahun setelah grup asal Amerika Serikat itu mengambil alih kepemilikan klub. Dalam pernyataan resminya, TFG menyebut tengah mengeksplorasi berbagai peluang investasi baru untuk Everton, termasuk kemungkinan melepas saham pengendali alias controlling interest kepada pihak lain.
Langkah ini menandai babak baru bagi klub Merseyside tersebut, yang baru saja melewati masa-masa sulit secara finansial sebelum diambil alih TFG pada 2024 dalam kesepakatan yang disebut bernilai lebih dari £400 juta. TFG menegaskan bahwa keputusan mempertimbangkan penjualan diambil setelah prioritas utama mereka — stabilitas, investasi, dan rampungnya stadion baru Everton — dinilai sudah tercapai. Meski begitu, pernyataan ini muncul di tengah ketegangan yang masih membekas antara manajemen dan sebagian besar pendukung klub.

TFG Buka Peluang Lepas Saham Pengendali Everton
Dalam pernyataan yang dikutip media, TFG menyampaikan secara gamblang bahwa mereka membuka pintu bagi investor baru. “The Friedkin Group is exploring new investment options for Everton Football Club, including the potential sale of a controlling interest,” demikian bunyi pernyataan tersebut. Artinya, bukan hanya saham minoritas yang ditawarkan, melainkan kemungkinan kendali penuh atas klub berpindah tangan.
Grup itu juga menjelaskan alasan di balik keputusan ini. Menurut TFG, ketika mereka masuk sebagai penjaga klub, Everton berada dalam ketidakpastian finansial yang serius serta menghadapi berbagai tantangan di dalam maupun di luar lapangan. Prioritas saat itu adalah menghadirkan stabilitas, investasi, dan dukungan yang dibutuhkan untuk mengamankan masa depan klub, termasuk membantu merampungkan stadion baru yang sudah lama dinanti para pendukung.
“With that foundation now safely in place, the time is right to consider the next chapter for Everton,” lanjut pernyataan itu. TFG menegaskan fondasi yang mereka bangun kini sudah aman, sehingga mereka menilai waktu yang tepat untuk memikirkan babak berikutnya. Namun mereka memberi syarat penting: hanya akan mempertimbangkan minat dari pihak yang diyakini benar-benar tepat untuk meneruskan kepengurusan klub.
TFG juga menegaskan fokus mereka tidak berubah selama proses ini berjalan. Mereka berjanji tetap mendukung klub dengan segala cara yang diperlukan demi meraih kesuksesan di lapangan, sekaligus melanjutkan upaya memberi dampak positif bagi komunitas yang dilayani klub.
Kronologi Sejak Pengambilalihan hingga Retaknya Hubungan dengan Fans
TFG menguasai 99,5% saham Everton pada 2024, menggantikan pemilik sebelumnya, Farhad Moshiri, setelah klub terpuruk dalam krisis keuangan. Pengambilalihan itu disertai visi membangun Everton yang “berkelanjutan dan sukses”, dengan Dan Friedkin yang berbasis di Houston duduk sebagai chairman. Namun sejak awal, gaya kepemimpinan mereka menjadi sorotan.
Ketegangan memuncak pada jendela transfer musim panas. Everton sempat menerima tawaran senilai £40 juta dari Nottingham Forest untuk salah satu aset berharga mereka, gelandang Timnas Inggris U-19, Harrison Armstrong. Kabar itu memicu kemarahan pendukung, dan klub akhirnya membatalkan kesepakatan tersebut. Kekecewaan tetap berlanjut setelah Everton melepas Beto ke Fiorentina tak lama setelahnya, meninggalkan tim dengan hanya satu penyerang yang benar-benar dikenali, yakni pemain Prancis berusia 23 tahun, Thierno Barry.
Persoalan komunikasi ikut memperkeruh situasi. Pada September, manajer David Moyes mengaku belum pernah bertemu atau berbicara langsung dengan Friedkin sejak kembali menangani tim pada Januari 2025. Friedkin memang menyerahkan urusan operasional harian klub kepada menantunya, Rishi Majithia, yang bekerja bersama chief executive Angus Kinnear. Fakta bahwa Moyes belum pernah berkomunikasi dengan pemilik klub memperkuat kesan di kalangan pendukung bahwa TFG hanyalah pemilik yang jarang hadir.
Rangkaian peristiwa itu membuat keputusan TFG untuk menjajaki penjualan klub tidak sepenuhnya mengejutkan. Retakan antara manajemen dan basis penggemar sudah terbuka jauh sebelum pernyataan resmi dikeluarkan, terutama akibat upaya kontroversial melepas Armstrong di akhir jendela transfer.
Dampak dan Penilaian atas Masa Kepemimpinan TFG
Di balik gejolak tersebut, TFG meninggalkan warisan yang tidak bisa diabaikan. Mereka berhasil menempatkan klub pada pijakan finansial yang lebih stabil, dan Everton kini bermain di stadion baru — meski proyek stadion itu sebenarnya sudah efektif dikerjakan sebelum pengambilalihan. Kombinasi stabilitas keuangan dan fasilitas baru membuat Everton menjadi proposisi yang jauh lebih menarik bagi calon pembeli dibandingkan saat Moshiri masih menakhodai klub.
Namun dari sisi ambisi sepak bola, pendekatan TFG dinilai konservatif. Penjualan Iliman Ndiaye ke Manchester City senilai £65 juta, ditambah kegagalan menjual Armstrong, dipandang sebagai sinyal keterbatasan ambisi di pasar transfer. Jendela transfer yang berantakan bahkan membuat Moyes hanya memiliki 18 pemain senior outfield saat deadline day, sebuah kondisi yang kontras dengan kebutuhan bersaing di kompetisi tingkat atas.
Analisis media menyebut periode kepemimpinan TFG akan dikenang sebagai masa jabatan yang “tidak spektakuler”. Prestasi utama mereka adalah menstabilkan klub dan menyiapkan Everton sebagai klub yang layak diakuisisi kembali. Dengan kata lain, nilai jual Everton hari ini justru dibangun dari fondasi yang mereka rapikan sendiri.
Perbandingan dengan AS Roma dan Konteks yang Lebih Luas
TFG juga memiliki klub lain, AS Roma, dan perbandingan keduanya sering muncul. Roma disebut mendapat pendekatan yang jauh lebih aktif dari grup tersebut, ditambah sumber daya tambahan dari bermain di Liga Champions. Perbedaan perlakuan ini menjadi salah satu alasan pendukung Everton merasa klub mereka kurang diprioritaskan.
Kesan bahwa TFG adalah pemilik yang absen semakin kuat karena Friedkin belum pernah menghadiri pertandingan Everton sejak Moyes kembali ke kursi manajer sekitar 21 bulan lalu. Situasi ini memperlihatkan bahwa hubungan antara kepemilikan dan proyek olahraga di lapangan belum pernah benar-benar terbangun. Bagi calon pembeli, celah inilah yang justru menyisakan ruang besar untuk memperbaiki hubungan dengan basis penggemar.
Mantan kiper Everton, Rachel Brown-Finnis, mengaku terkejut dengan rencana penjualan ini. Berbicara di 5 Live Breakfast, ia menilai TFG telah menstabilkan klub setelah periode ketidakpastian finansial yang turbulent. Ia juga menyoroti nilai stadion baru yang membanggakan dan berpotensi menghasilkan pendapatan dari sisi komersial.
“If the Friedkin Group sells up tomorrow, they have left the club in a much better place,” ujar Brown-Finnis. Ia berharap proses penjualan dijalankan dengan uji tuntas yang serius dan pemilik baru benar-benar ingin membawa klub maju. Menurutnya, pendukung Everton sudah terlalu lama menghabiskan waktu di era yang penuh gejolak finansial.
Yang Perlu Dicermati ke Depan
Pernyataan TFG menegaskan bahwa mereka tidak akan menyambut semua pihak yang berminat. Mereka hanya akan menampung ketertarikan dari calon pemilik yang diyakini mampu menjadi penjaga klub yang tepat. Kalimat ini penting karena menunjukkan bahwa negosiasi, jika terjadi, akan selektif dan berpotensi memakan waktu lebih lama dari yang dibayangkan penggemar.
Sementara itu, tim tetap harus berjalan. Moyes dan skuadnya menghadapi kompetisi dengan kedalaman pemain yang terbatas, sehingga hiruk-pikuk soal kepemilikan berisiko mengalihkan perhatian dari kebutuhan mendesak di lapangan. Ketidakpastian semacam ini biasanya langsung terasa pada perencanaan transfer dan stabilitas jangka pendek klub.
Bagi pendukung Everton, pertanyaan terbesarnya bukan sekadar siapa pembeli berikutnya, melainkan apakah pemilik baru nanti bersedia hadir, berkomunikasi, dan berinvestasi secara konsisten di tim. Dua tahun terakhir sudah memberi pelajaran bahwa stabilitas keuangan saja tidak cukup tanpa kedekatan dengan klub dan para penggemarnya.
Keputusan The Friedkin Group untuk menjajaki penjualan Everton menjadi penanda berakhirnya satu babak singkat dalam sejarah klub. Meski dikritik karena dianggap kurang ambisius dan jarang hadir, grup ini meninggalkan Everton dalam kondisi finansial yang jauh lebih sehat serta stadion baru yang siap mendatangkan pendapatan komersial.
Yang belum tuntas adalah soal arah olahraga dan hubungan dengan pendukung, dua hal yang akan langsung diuji begitu calon pemilik baru muncul. Sampai proses itu selesai, Everton berada di posisi yang secara finansial lebih kuat, tetapi masih menunggu kejelasan siapa yang akan memimpin langkah berikutnya.