Lampard di Coventry: Kunci Bertahan di Premier League

Frank Lampard sedang merasakan langsung betapa beratnya menangani tim yang baru promosi di Premier League bersama Coventry. Menurut Tony Pulis, yang pernah berada di posisi serupa, kunci utamanya bukan sekadar menyusun taktik di lapangan, melainkan bagaimana seorang manajer menyikapi rentetan kekalahan yang hampir pasti datang. Cara Lampard di Coventry mengelola hasil-hasil buruk itulah yang akan menentukan arah musim mereka berikutnya.

Pandangan tersebut disampaikan Pulis dalam kolomnya untuk BBC Sport, yang ditulis bersama Chris Bevan. Coventry belum mencetak satu gol pun sejauh musim ini dan baru saja kalah telak dari Brighton pada akhir pekan. Pulis berbicara bukan sebagai pengamat biasa, sebab ia pernah membawa Stoke City promosi ke Premier League pada 2008 dan harus berjuang keras agar tidak langsung turun kembali, sehingga sarannya berangkat dari pengalaman nyata di lapangan.

Lampard di Coventry

Beratnya Melatih Tim yang Baru Promosi di Premier League

Premier League adalah level tertinggi dalam sepak bola Inggris, dan tekanannya tidak hanya datang dari kualitas teknis pemain lawan. Pulis menekankan bahwa kekuatan fisik para pemain di kasta ini juga berada di level berbeda, sehingga tim promosi sering kewalahan sejak menit awal. Menurutnya, jarak antara Premier League dan Championship terasa semakin lebar dari musim ke musim, membuat persiapan yang matang menjadi wajib.

Karena itu, seorang manajer harus benar-benar cerdas dalam menyusun pendekatan untuk setiap pertandingan. Pulis menekankan pentingnya persiapan yang spesifik menghadapi tiap lawan, karena tim harus rapi saat menguasai bola dan yang lebih penting lagi saat kehilangan bola. Tim-tim Premier League melakukan serangan balik dengan efisiensi tinggi, sehingga kestabilan di belakang sangat menentukan hasil akhir.

Namun, saran paling mendasar yang diberikan Pulis kepada manajer yang berada di posisi Lampard bukanlah soal formasi. Ia menyarankan agar seorang manajer juga mengatur dirinya sendiri dan waktunya, bukan hanya mengatur para pemain. Manajer harus berusaha tetap segar dan berpikiran positif, sebab rentetan kekalahan nyaris tidak bisa dihindari dan berpotensi menyeret suasana hati ke titik terendah.

Menghadapi Kekalahan Jadi Kunci Lampard di Coventry

Pulis mengingatkan bahwa siapa pun lawan yang dihadapi, sebuah kekalahan selalu membekas, terlebih jika kalah dengan skor besar seperti yang dialami Coventry melawan Brighton pada Minggu. Hal itu berlaku sama bagi setiap manajer tanpa kecuali. Bagi Lampard, entah itu kalah dari Hull maupun Brighton di kandang, atau dari Arsenal dan Manchester City, semuanya tetap menyakitkan.

Meski begitu, yang menentukan kelanjutan cerita bukanlah kekalahannya, melainkan cara seorang manajer menanggapinya. Sebagai pemimpin sekelompok pemain muda, Lampard tidak boleh terlihat lesu dan kosong saat masuk kerja pada Senin pagi setelah kekalahan berat. Di dalam hati ia mungkin hancur dan harga dirinya tercabik, tetapi seluruh isi klub menunggu reaksinya dan akan menyesuaikan sikap mereka berdasarkan reaksi tersebut.

Datang ke lapangan latihan dengan wajah muram dan pikiran kacau tidak akan menghasilkan apa pun, apa pun yang sedang dirasakan di dalam. Pulis mengaku telah berkali-kali berada dalam situasi semacam itu selama menjadi manajer, dan yang harus dilakukan adalah membusungkan dada serta mencari cara mengembalikan semua orang ke jalur yang benar. Fokus kemudian diarahkan pada satu hal saja: pertandingan berikutnya, dengan tuntutan kerja yang lebih keras lagi.

Menurut Pulis, itulah yang dilakukan setiap pemimpin yang baik, meskipun kadang terasa menguras tenaga. Karena alasan itulah, kemampuan mengatur waktu dan memilah masalah yang benar-benar bisa diselesaikan menjadi begitu penting. Seorang manajer tidak bisa menyelesaikan semua persoalan sekaligus, sehingga prioritas harus ditetapkan dengan jelas.

Pelajaran dari Stoke City dan Langkah di Bursa Transfer Januari

Saat membawa Stoke City ke Premier League pada 2008, Pulis mengaku belajar sambil berjalan. Start mereka tidak bagus, sehingga ia harus menyingsingkan lengan baju, bekerja dengan skuad yang ada, dan benar-benar fokus untuk meraih hasil. Di luar itu, ia selalu berpikir jauh ke depan dan cepat mengenali apa saja yang perlu diperbaiki agar peluang bertahan di kasta tertinggi semakin besar.

Ketika jendela transfer kembali dibuka pada Januari, Stoke sudah menjalin pembicaraan dengan Tottenham untuk mendatangkan Matty Etherington, pemain yang bisa memasok umpan silang dan menciptakan peluang dari sisi sayap. Tim juga membutuhkan tambahan gol, sehingga Pulis merekrut James Beattie dari Sheffield United. Meski Sheffield United saat itu berlaga di Championship, hal itu tidak menjadi masalah karena Beattie punya catatan mencetak gol di kasta tertinggi. Kedua pemain tersebut berperan besar dalam upaya menyelamatkan Stoke dari degradasi.

Soal Coventry yang belum mencetak gol, Pulis memahami bahwa orang luar mungkin langsung menilai lini depan mereka bermasalah. Pemikiran umum biasanya menuntut penyerang tengah menjadi pemuncak daftar top skor, atau mengandalkan pemain sayap maupun gelandang nomor 10. Akan tetapi, menurut Pulis, beban mencetak gol seharusnya dibagi oleh seluruh pemain, bukan ditimpakan pada satu atau dua orang saja.

Pulis juga mengulang salah satu poin yang pernah ia tulis di kolom musim lalu, yaitu pentingnya bertahan dengan benar. Secara rata-rata, catatan clean sheet menghasilkan poin lebih banyak daripada satu gol yang dicetak, dan hal ini selalu ia tekankan kepada para pemainnya. Menuntaskan kedua ujung lapangan dengan baik adalah benang merah yang berlaku apa pun rentetan hasil yang sedang dialami, karena pertandingan dimenangkan dan dikalahkan di area tersebut.

Bertahan di Premier League Sudah Cukup Disebut Sukses

Coventry memang memulai musim dengan buruk, tetapi apa yang terjadi di empat pertandingan pertama tidak harus menjadi cerita sepanjang musim. Bersama Stoke dulu, Pulis meraih kemenangan pada laga kandang pertama melawan Aston Villa, namun itu menjadi satu-satunya kemenangan mereka dalam tujuh pertandingan liga pertama setelah promosi. Hal yang paling ia ingat dari periode itu adalah Hull yang naik bersamaan justru menang di markas Newcastle, Arsenal, dan Tottenham, serta bertengger di lima besar, sementara Stoke berada di posisi tiga atau empat dari bawah.

Pulis kemudian makan malam bersama chairman-nya, Peter Coates, yang memuji betapa luar biasanya start Hull. Pulis menjawab dengan tantangan ringan: ia berani bertaruh bahwa Stoke akan finis di atas Hull, dan hal itu benar-benar terjadi. Keyakinan itu muncul karena mentalitas tim dan para pendukung. Ia yakin para pemainnya tidak akan kehilangan keberanian, kebersamaan yang dibutuhkan sudah tumbuh di dalam skuad, dan dukungan suporter luar biasa besar sehingga sangat membantu mereka di kandang. Setiap kekalahan diterima dengan lapang dada, tetapi para pemain selalu siap bangkit lagi dan lagi.

Steve Coppell pernah berpesan kepada Pulis bahwa seorang manajer harus siap menghadapi kenyataan akan kalah cukup banyak, atau setidaknya tidak menang terlalu sering, ketika membawa tim ke Premier League. Situasinya memang tidak biasa: dari rutin menang setiap pekan di Championship, tiba-tiba harus berhadapan dengan kekalahan bertubi-tubi. Coppell menyarankan agar Pulis siap melewati rentetan lima atau enam pertandingan tanpa kemenangan, namun jika dalam periode yang sama bisa menang dua atau tiga kali, tim akan melesat naik di klasemen.

Menerima logika itu tidak mudah, terutama bagi para pemain yang menjadi bagian dari tim promosi, apalagi jika musim sebelumnya mereka begitu dominan seperti Coventry. Mereka diharapkan bersaing di puncak Championship, tetapi menurut Pulis justru tampil melampaui ekspektasi dengan finis jelas di posisi teratas. Situasi Hull berbeda karena mereka meraih promosi di bawah Sergej Jakirovic, sesuatu yang tidak dipercaya banyak orang di luar klub. Hull kini memulai musim dengan sangat baik, seperti yang dilakukan The Tigers pada 2008 saat ditangani Phil Brown, dan sekarang tinggal berusaha mempertahankannya. Mereka saat ini berada di posisi ketiga, tetapi jika finis di peringkat 17 pada akhir Mei, sama seperti pencapaian di era Brown, musim itu tetap bisa disebut sukses.

Pulis menyatakan akan mengamati perkembangan Hull lebih dekat dalam kolom-kolom berikutnya, termasuk tim promosi lainnya, Ipswich. Gary O’Neil menghadapi tugas yang sangat berat di Portman Road, tetapi itu adalah tantangan yang akan ia nikmati. Pulis memberi O’Neil debut senior di Portsmouth pada ajang Championship tahun 1999, dan ia mengenangnya sebagai pemuda cerdas yang selalu terobsesi dengan sepak bola. Ipswich adalah klub besar, dan Pulis berharap keduanya sukses musim ini. O’Neil sendiri sudah punya pengalaman di Premier League bersama Bournemouth dan Wolves, dan pengalaman itu akan sangat dibutuhkannya.

Sembilan Manajer Baru di Premier League Musim Ini

Termasuk O’Neil, ada sembilan manajer baru yang memulai musim bersama klub-klub Premier League. Jumlah ini lebih banyak dari biasanya, sehingga Pulis ingin membahasnya secara singkat satu per satu. Enzo Maresca di Manchester City terasa sebagai keputusan yang masuk akal baginya, bahkan sebelum City memenangi empat laga liga pertama, karena Maresca pernah bekerja dengan Pep Guardiola dan mengenal klub itu dengan baik. City memang mengalami perombakan pemain yang cukup besar pada musim panas, tetapi Pulis memperkirakan mereka tetap akan bersaing untuk semua trofi musim ini.

Perubahan besar juga terjadi di Stamford Bridge. Manajer Chelsea, Xabi Alonso, punya pengalaman bermain di Inggris dan tentu memahami bahwa tidak ada pertandingan yang bisa dianggap mudah di Premier League, seperti yang kembali ditunjukkan hasil imbang dengan Hull pada Sabtu. Pengalaman itu menjadi modal penting ketika ekspektasi di klub sebesar Chelsea selalu tinggi.

Andoni Iraola melakukan pekerjaan luar biasa di Bournemouth, namun ia akan membutuhkan seluruh kemampuan dan kecerdasan manajerialnya untuk berhasil di Liverpool. Di Liverpool, tim lawan akan bermain lebih dalam dan mengandalkan situasi serangan balik, hal yang jarang terjadi saat ia menangani Bournemouth. Karena itu, Iraola harus menyiapkan filosofi kepelatihannya untuk mengatasi tim-tim yang jelas akan bermain lebih bertahan menghadapi Liverpool dibandingkan ketika menghadapi Bournemouth. Menurut Pulis, jika diberi waktu, Iraola akan meraih kesuksesan besar, tetapi ketika ia bersiap membawa tim barunya menghadapi tim lamanya di Vitality Stadium pada Minggu, sudah terlihat bahwa Liverpool masih membutuhkan lebih banyak perubahan untuk berkembang menjadi tim juara seperti yang dituntut para pendukungnya.

Di Nottingham Forest, Oliver Glasner melakukan pekerjaan hebat bersama Crystal Palace dan Pulis yakin akan melihat hal serupa di City Ground. Pulis mengaku belum banyak mengetahui tentang Marco Rose, Matthias Jaissle, dan Pierre Sage yang kini menangani Bournemouth, Newcastle, dan Crystal Palace. Berbeda dari manajer-manajer yang ia sebut sebelumnya, ketiganya belum punya pengalaman di Premier League, tetapi mereka bergabung dengan klub-klub mapan di kasta tertinggi, dan itu menjadi keuntungan besar.

Terakhir, ada Alvaro Arbeloa di Fulham. Ia memiliki rekam jejak bermain yang fantastis bersama Real Madrid dan Liverpool, serta pernah melatih di akademi dan tim B Real Madrid sebelum menangani tim utama pada paruh kedua musim lalu. Meski pengalamannya di bangku cadangan belum banyak, ia telah bekerja bersama banyak manajer dan pemain top. Fulham akan menjadi ujian nyata baginya, seperti terlihat dari cara mereka memulai musim, sehingga Pulis menegaskan klub itu juga akan ia amati dengan saksama.

Penutup

Dari seluruh uraiannya, pesan utama Pulis cukup jelas: bagi tim promosi seperti Coventry, kemampuan seorang manajer mengelola diri sendiri dan menyikapi kekalahan sama pentingnya dengan taktik di lapangan. Lampard di Coventry tidak bisa menghindari hasil buruk, tetapi ia bisa menentukan bagaimana klub meresponsnya, menjaga kebersamaan skuad, dan mengarahkan fokus ke pertandingan berikutnya. Pengalaman Stoke City pada 2008 menunjukkan bahwa start buruk tidak otomatis berujung degradasi, asalkan ada mentalitas yang tepat, dukungan suporter, dan perekrutan yang tepat sasaran.

Pulis juga membuka ruang dialog bagi para pembaca. Ia menyatakan telah membahas banyak topik di kolomnya sepanjang musim lalu, mulai dari berbagai level permainan hingga segala aspek manajemen, dan kini ingin mengetahui topik apa yang ingin dibahas pembaca dalam beberapa pekan ke depan. Saran maupun pertanyaan bisa disampaikan melalui kolom komentar. Kolom ini sendiri merupakan hasil perbincangan Tony Pulis dengan Chris Bevan dari BBC Sport.