Piala Dunia 2026 Picu Lonjakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Inggris

Laporan kekerasan dalam rumah tangga di Inggris mencapai rekor tertinggi selama gelaran Piala Dunia 2026. Data dari kepolisian menunjukkan bahwa total 2.322 insiden dilaporkan selama turnamen berlangsung, dengan 384 di antaranya merupakan kasus kekerasan dalam rumah tangga atau setara 17 persen dari seluruh laporan. Yang mencolok, sebanyak 93 persen insiden terjadi saat atau setelah pertandingan tim nasional Inggris. Angka ini hanya kalah dari Euro 2020 yang digelar pada 2021.

Piala Dunia 2026

Rekor Tinggi Kekerasan Dalam Rumah Tangga Piala Dunia 2026

Kepolisian mencatat lonjakan signifikan dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga sepanjang Piala Dunia 2026. Insiden kekerasan domestik ini disebut sebagai yang tertinggi kedua setelah Euro 2020. Kepala Polisi Nasional untuk Sepak Bola, Mark Roberts, menyebut peningkatan ini mengkhawatirkan dan mengaitkannya dengan konsumsi alkohol.

“Sebagian besar insiden terkait alkohol. Itu kekhawatiran nyata,” ujar Roberts kepada Sky Sports News. “Peningkatan kekerasan dalam rumah tangga dan insiden di tempat hiburan malam menjadi pola yang terus berulang di setiap turnamen. Ini akan menjadi fokus utama kami dalam merencanakan turnamen ke depan.”

Perubahan Jam Operasi Menjelang Laga

Salah satu pemicu khusus adalah perubahan jam operasional tempat hiburan hanya 48 jam sebelum pertandingan Meksiko vs Inggris. Roberts mengkritik keputusan tersebut karena tidak memberi waktu bagi kepolisian untuk merotasi personel atau membatasi keramaian di area tertentu.

  • Jadwal pertandingan sebenarnya sudah diketahui sejak tujuh bulan sebelumnya.
  • Perubahan aturan perizinan pada Jumat sebelum laga Minggu dinilai tidak terencana.
  • Polisi menyarankan sistem perizinan yang sudah ada seharusnya dipertahankan.

Ujaran Kebencian Online Juga Meningkat

Selain kekerasan fisik, ujaran kebencian *online* juga melonjak. Tercatat 293 insiden ujaran kebencian *online* terkait Piala Dunia 2026, menjadi angka tertinggi kedua setelah Euro 2020 yang mencatat 393 kasus. Dari 750 rujukan terkait pertandingan Inggris, sebanyak 293 di antaranya memenuhi ambang batas tindak pidana kebencian *online*.

Kepolisian menduga sebagian besar pelaku berasal dari luar Inggris. Roberts menegaskan bahwa pelaku yang teridentifikasi di dalam negeri akan dituntut, seperti yang berhasil dilakukan pada kasus pelecehan terhadap pemain wanita Jess Carter. Namun, pelaku dari luar negeri sulit ditindak karena perbedaan hukum di masing-masing negara.

Proses Penuntutan dan Tantangan Global

“Kami mendorong kerja sama dengan negara lain untuk menuntut pelaku di luar negeri. Di Inggris, jika kami berhasil mengidentifikasi mereka, pasti akan diproses hukum,” tegas Roberts.

Pelajaran untuk Euro 2028

Data dari Piala Dunia 2026 akan digunakan untuk memperbaiki perencanaan kepolisian menjelang Euro 2028 yang akan dihelat bersama oleh Inggris, Skotlandia, Wales, dan Republik Irlandia. Beberapa hal yang menjadi perhatian utama antara lain:

  • Kebijakan perizinan jam operasional yang lebih ketat dan terencana.
  • Pengumpulan intelijen tentang ancaman geopolitik dan potensi kerusuhan dari suporter negara lain.
  • Penanganan suporter asing yang bermasalah, termasuk kemungkinan penolakan masuk ke negara.
  • Penetapan tanggung jawab yang jelas di setiap kota tuan rumah.

Roberts menambahkan, “Dunia dalam dua tahun akan berbeda. Kami harus tetap waspada terhadap ancaman yang muncul. Perlakukan semua suporter berdasarkan perilaku, bukan reputasi.”

Perilaku Suporter Inggris Dipuji

Meskipun ada kekhawatiran di dalam negeri, perilaku suporter Inggris yang bepergian ke Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada justru mendapat pujian. Dari perkiraan lebih dari 100.000 suporter yang hadir, hanya tercatat 22 tindakan kepolisian—lebih tinggi dibandingkan Piala Dunia sebelumnya (0 di Qatar, 3 di Rusia), tetapi sebanding dengan jumlah fans yang jauh lebih besar.

“Para suporter yang bepergian hampir semuanya menjadi kebanggaan,” kata Roberts. “Mereka menikmati pertandingan, mendukung tim dengan luar biasa. Momen ‘Wonderwall’ bersama para pemain tidak akan terlupakan.”

Hubungan baik antara suporter Inggris dan Meksiko pada laga babak 16 besar di Azteca menjadi sorotan positif. Banyak suporter Meksiko memberikan ucapan selamat dan dukungan kepada Inggris di dalam dan luar stadion. Dari 22 tindakan polisi, mayoritas terkait pelanggaran ketertiban umum, masuk tanpa izin, pemukulan, percaloan, mabuk, dan pengusiran. Satu kasus pelecehan seksual tidak dilanjutkan ke penuntutan setelah ditinjau kembali.

Lonjakan kekerasan dalam rumah tangga saat Piala Dunia 2026 menjadi pengingat bahwa euforia sepak bola harus diimbangi dengan kesadaran sosial. Alkohol tetap menjadi faktor pemicu utama, sementara perubahan kebijakan yang mendadak memperburuk situasi. Keberhasilan penanganan suporter di luar negeri menunjukkan bahwa perencanaan matang dan kerja sama internasional bisa menekan risiko. Untuk turnamen mendatang, semua pemangku kepentingan perlu belajar dari data ini agar sepak bola tetap menjadi perayaan yang aman bagi semua.