Momen Pelukan yang Menyentuh Hati
Ada satu gambar yang paling menggambarkan perjalanan Timnas Prancis di Piala Dunia sejauh ini. Bukan aksi Michael Olise yang mencoba sepeda ke gawang Swedia, atau foto skuad di jet pribadi dengan hoodie kebanggaan. Justru momen ketika Kylian Mbappé berlari ke arah pinggir lapangan untuk memeluk Didier Deschamps setelah gol pembuka kemenangan 3-0 atas Swedia. Pelukan itu kemudian diikuti oleh seluruh pemain lain, menandakan kebersamaan yang erat.
Deschamps mengaku tersentuh dengan gestur kaptennya itu. Sang pelatih baru saja kembali dari cuti singkat setelah kehilangan ibunya. “Kelompok ini bersatu,” ujar Deschamps. “Mereka tampil baik saat saya tidak ada, dan sekarang saya kembali 100 persen. Semangat tim tidak selalu memenangkan pertandingan, tapi bisa membuatmu kalah. Kekuatan kolektif di atas segalanya, dan Kylian adalah contoh terbaiknya.”

Pelajaran Pahit dari Masa Lalu
Prancis bukanlah negara tanpa luka akibat perpecahan internal. Semua orang masih ingat kekacauan Piala Dunia 2010 ketika skuad mogok latihan setelah Nicolas Anelka diusir. Kritik Raymond Domenech terhadap Anelka memicu keretakan antara pemain dan staf pelatih, bahkan isu rasial ikut mencuat. Kini di tahun 2026, kepemimpinan Mbappé menjadi fondasi baru yang menyatukan tim.
Mbappé sendiri sudah menjadi sasaran kritik karena berani bersuara soal politik, khususnya menentang kelompok sayap kanan Prancis. Namun dukungan Deschamps tak pernah goyah. “Saya sudah cukup dibenci,” kata Mbappé saat diminta terjun ke politik. Tapi di dalam tim, ia mendapat kepercayaan penuh dari pelatih dan rekan setimnya.
Taktik Berani dengan Kepercayaan Penuh
Deschamps tahun ini memainkan empat penyerang murni sekaligus – langkah yang tampak berisiko. Namun dengan Kylian Mbappé sebagai pemimpin di lapangan, rencana itu berjalan mulus. Mbappé, yang terkenal sebagai predator gol, kini juga rajin membantu bertahan dan melakukan counter-pressing. Ini menunjukkan bahwa ia menerima tanggung jawab besar di luar mencetak gol.
Formasi 4-2-4 atau variannya membuat Prancis tetap sulit dikalahkan sekaligus menghibur. Deschamps percaya pada kemampuan para pemainnya, dan para pemain membalas kepercayaan itu dengan kerja keras. “Semangat tim tidak memenangkan trofi, tetapi bisa membuatmu kehilangan,” ulang Deschamps, menekankan pentingnya kebersamaan.
Malam Spesial untuk Sang Kapten
Pada Kamis lalu, Deschamps memberikan jersey peringatan 100 caps kepada Kylian Mbappé dalam acara makan malam. Sejak 2023, pemain berusia 27 tahun itu resmi menjadi kapten Prancis, namun perannya kini jauh lebih dari sekadar ban di lengan. Ia adalah pemimpin sejati yang memikul tanggung jawab dengan senyuman.
Hubungan mutual antara pelatih dan pemain seperti ini jarang terjadi di level tertinggi. Deschamps, yang mungkin menjalani turnamen terakhirnya sebagai pelatih tim nasional, tampak menikmati momen-momen ini. Sementara itu, kepemimpinan Mbappé di atas dan di luar lapangan menjadi ancaman serius bagi lawan-lawan Prancis.